Terobosan New Media

Upaya mencari solusi untuk menumbuhkan harapan perbaikan perbukuan di Indonesia.

Upaya Memahami Pembaca

Komunikasi antara penerbit dan pembaca perlu dibangun lebih erat dengan pendekatan-pendekatan yang sifatnya strategis perlu dibangun, kalau memang ada keinginan untuk menciptakan iklim yang lebih baik.

Menyikapi Pembakaran Buku

Belum genap dua tahun kita bebas dari rezim pelarangan buku lewat tangan Kejagung, akhirnya kita harus alami kembali peristiwa pelarangan dan pembakaran buku.

Ikhtiar Bersama Demi Amanat Pak Raden

Gilang-gemilang ingatan orang akan sosok Pak Raden dan sukses besar Si Unyil bertahan sebagai warisan budaya visual ternyata tak disertai dengan kesejahteraan bagi penciptanya. Ini adalah ikhtiar yang diupayakan untuk mengembalikan haknya.

Tampilkan postingan dengan label kampanye. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kampanye. Tampilkan semua postingan

Catatan Kampanye #StopBakarBuku

Latar Belakang
Kampanye ini muncul sebagai bentuk protes keras masyarakat atas tindakan pembakaran 216 eksemplar buku “5 Kota Paling Berpengaruh di Dunia” karya Douglas Wilson di halaman belakang Bentara Budaya, kompleks Gramedia, Jakarta pada hari Rabu, 13 Juni 2012 serta pembakaran buku yang sama di Cakung (Jawa Barat), Surabaya, Semarang, Makassar, dan Pekanbaru.
.
Tindakan
Surat Protes ini lahir setelah kejadian pembakaran buku dari inisiatif generasi muda (Ninus D. Andarnuswari, Damar Juniarto, Fahri Salam, Megi Margiyanto, Lisabona Rahman, dll.) untuk meminta masyarakat menolak tunduk pada teror pembungkaman berpendapat dan berekspresi demi Indonesia yang lebih baik, dengan menyerukan STOP BAKAR BUKU dan menyuarakan protes kepada Gramedia, MUI, FPI, dan POLRI yang membiarkan peristiwa pembakaran buku terjadi.
.

Pernyataan Menyikapi Pelarangan dan Pembakaran Buku (#StopBakarBuku)

Peristiwa Pembakaran Buku 13 Juni 2012 Peristiwa Pembakaran Buku 13 Juni 2012 (dok. Media Indonesia)

Belum genap dua tahun kita bebas dari rezim pelarangan buku lewat tangan Kejagung, akhirnya kita harus alami kembali peristiwa pelarangan dan pembakaran buku.

Sejak Mahkamah Konstitusi mencabut PNPS No. 4 Tahun 1963 per tanggal 14 Oktober 2010, publik bersorak. Semua gembira. Tapi sayang gegap gembira ini tak berumur panjang karena kini pelarangan/pembakaran buku kembali dilakukan lewat institusi lain: ormas, lembaga dinas/instansi, penerbit, dll.

Baru saja kita saksikan peristiwa perpustakaan yang menarik buku-buku yang disinyalir radikal di Madura, instansi yang menyita buku-buku SD yang dicap porno, juga ormas yang menyerbu toko-toko buku. Terakhir kita juga lihat penerbit/toko buku Gramedia yang dianjurkan oleh Majelis Ulama Indonesia untuk membakar buku terbitannya sendiri pada hari Rabu, 13 Juni 2012 ini.

Bersikaplah! Apa mau kita alami represi pelarangan buku seperti dulu lagi? Saya tidak mau. Sekali kali tidak ingin terjadi lagi.

Saya menolak praktek pelarangan buku yang dilakukan perpustakaan atas buku-buku radikal di Madura karena itu tak berdasar. Buku-buku radikal bukanlah musuh, tetapi represi pikiran adalah musuh yang sesungguhnya.

Saya menolak tindakan instansi yang menarik buku dengan cap porno karena tidak membaca isi buku yang berbicara soal kesehatan reproduksi dan fiksi Islami yang indah.

Saya juga menolak represi yang dilakukan FPI atau organisasi lainnya dalam bentuk sweeping, penyitaan, pengancaman dll.

Saya menyayangkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang mengajukan ide pembakaran buku bermasalah kepada Gramedia sebagai solusi dari ancaman FPI.

Saya sesalkan Gramedia yang memilih mengikuti anjuran dari MUI tersebut dan kemudian memutuskan untuk membakar buku tersebut. Karena tindakan Gramedia membakar buku meskipun dianjurkan MUI dan atas desakan FPI, membuat situasi perbukuan kita mundur. Pikirkan dampaknya kepada penerbit-penerbit lain dan dampak nasional dari pemeliharaan tradisi pembakaran buku ini di kemudian hari.

Pak Raden Ngamen Hak Cipta Si Unyil

Sebelum wafat, saya ingin pameran lukisan dan memperjuangkan hak cipta Unyil. Itu saja cukup. – Pak Raden, April 2012

Tanggal 14 April 2012 dipilih menjadi hari untuk melakukan kegiatan kampanye "Pak Raden Ngamen", sesuai keinginan Pak Raden agar dibuatkan 'panggung'. Semula diniatkan di TIM, tapi akhirnya karena izin dan biaya tidak ada, dibuatkan di rumahnya yang sempit di bilangan Petamburan.

Poster 'Pak Raden Ngamen', 14 April 2012

Di Balik Publikasi: Ikhtiar Bersama Demi Amanat Pak Raden

Kampanye #bukuanaklokal mempertemukan saya dengan kenyataan pahit salah satu penulis buku anak lokal bernama Drs. Suyadi. Ia adalah penulis beberapa buku dengan gaya bercerita yang khas, bermoral, dilengkapi dengan ilustrasi yang menawan. Goresan ilustrasinya bahkan mengisi masa kecil anak Indonesia yang hidup di tahun 70-80an karena jejaknya tertera di buku-buku teks sekolah.

4 dari 13 buku anak lokal yang ditulis oleh Drs. Suyadi

Orang mungkin acuh pada nama Drs. Suyadi, tetapi begitu ia mengganti namanya menjadi Pak Raden, maka gilang-gemilanglah ingatan orang akan dirinya. Pak Raden yang galak, arogan, dan pelit. Itulah karakter yang diciptakan Drs. Suyadi sebagai antitesis Si Unyil yang ramah, baik hati, dan pemurah. Gilang-gemilang ingatan orang itu dan sukses besar Si Unyil bertahan sebagai warisan budaya visual ternyata tak disertai dengan kesejahteraan bagi penciptanya.

Dengan kasat mata, saya segera tahu Pak Raden miskin. Tak berharta. Rumah yang ia tinggali merupakan rumah kakaknya. Bajunya lusuh, mungkin sudah lama tak beli baju baru. Ia melukis. Ia mengisi suara. Di usianya yang nyaris 80 tahun pada November 2012 nanti ia harus banting tulang mencari sesuap nasi.


Mati Suri #bukuanaklokal di Negeri Dongeng?


Seri tweet #bukuanaklokal mencuat karena ada kepedulian bersama dari pembaca untuk melongok kembali kuantitas dan kualitas buku anak lokal yang sekarang ini. Digulirkan sejak 9 Februari 2012 di ranah twitter, kemudian mendapat antusiasme cukup luas dari para pembaca buku, penulis, dan orang yang peduli pada masalah #bukuanaklokal.

Sebuah tulisan diturunkan di AlineaKata tentang persoalan buku anak. Isinya membandingkan kuantitas dan kualitas buku terjemahan dan buku anak lokal. Salinan tulisan ditulis ulang di twitter.


Jangkauan pembicaraan #bukuanaklokal semakin meluas dan menjangkau banyak orang. Sebanyak 79.929 dan meraup eksposur hingga 91.132 kesan. Terutama topik ini masif dilakukan di Hari Buku Anak Internasional (International Children's Book Day) pada 2 April 2012.

Hitungan Jangkuan dan Eksposur #bukuanaklokal

Tak Melupakan Pramoedya Ananta Toer lewat #PramsDay

Siapa bilang generasi muda Indonesia mudah lupa? Bahkan kini tampak ada sekian banyak insan yang ingin 'melawan lupa'. Termasuk tidak melupakan kontribusi orang-orang yang penting bagi bangsa ini.

Pramoedya Ananta Toer (6 Februari 1925-30 April 2006)

Salah satunya, tidak melupakan Pramoedya Ananta Toer. Sastrawan yang memberi kontribusi pada kehadiran realisme sastra yang tidak mengutamakan keindahan, tetapi pada karya sastra yang memberi daya guna bagi pembaca. Kepergiannya pada 30 April 2006 tidak serta merta menghapus ingatan pembaca akan dirinya. Inilah semangat yang dihembuskan lewat kampanye sehari mengenang Pramoedya Ananta Toer di tanggal 6 Februari 2012. Tanggal itu merupakan tanggal kelahiran sang penulis, 6 Februari 1925.

Tanda pagar #PramsDay semula berdiri sendiri-sendiri. @htanzil @redjopi @helvry_sinaga @scriptozoid @nemubuku @rahung @RichardOh dan banyak lagi mulai posting di Twitter. Lalu semua itu kemudian menyatu menjadi kekuatan opini yang mampu membuka mata bahwa pembaca (masyarakat Indonesia) tidak lupa pada Pramoedya Ananta Toer. #PramsDay adalah upaya rekoleksi karya dan pikiran Pramoedya yang diwujudkan dengan menunjukkan buku favorit, quotes yang disukai, survei kapan membaca Pramoedya, foto koleksi buku-buku Pramoedya.

Menarik hasilnya, survei yang dilakukan oleh @htanzil dan @hilmarfarid misalnya. @htanzil melaporkan ada 20 mention mengaku pernah baca karya Pram, usia mereka di kisaran (12-38 thn), dan ada yg baca Pram saat usia 12 tahun! Sedang @hilmarfarid mengumpulkan jawaban dari "apa buku/tulisan pram yg paling disukai?" dan pembaca menjawab mulai dari Arus Balik, Bukan Pasar Malam, Gadis Pantai, dlsb.
 

Pemuatan Kampanye #SavePustakaJaya di Harian Detik

Seminggu lalu, Raisya wartawan Harian Detik mewawancarai saya tentang kegiatan kampanye #SavePustakaJaya. Wawancara ini sendiri berlangsung cukup intens di sela jadwal kerja yang padat. Pada intinya, dari sisi wartawan, perihal nasib Pustaka Jaya ini sepertinya luput dari perhatian kalau saja tidak ada gerakan kampanye para pembaca untuk mencoba menyelamatkannya.

Dari saya, tentu saja berharap Pustaka Jaya benar-benar bisa “selamat” dalam badai perindustrian perbukuan. Tetapi semua kembali pada mereka. Karena yang penting diketahui lewat gerakan kampanye #SavePustakaJaya adalah sebuah pesan psikologis baik kepada penerbit Pustaka Jaya maupun kepada masyarakat luas bahwa keberadaan mereka penting dan banyak pembaca yang betul-betul peduli, meskipun dalam tempo yang pendek ini hanya “kecil” nilai sumbangsihnya.

Artikel "Berharap Pustaka Kembali Jaya"

Hasil wawancara sendiri sudah naik cetak pada Sabtu, 21 Januari 2012 di Harian Detik pagi dengan judul “Berharap Pustaka Kembali Jaya”. Terima kasih atas kesempatan pemuatan kisah Pustaka Jaya ini ke media cetak Harian Detik dan semoga semakin banyak pembaca yang menyadari apa yang sedang diperjuangkan bersama-sama oleh kegiatan ini.

Testimoni Arti Pustaka Jaya Bagimu...

Mengajak semua orang untuk berbagi testimoni, apa arti Pustaka Jaya bagimu. Ajak juga teman-teman yang lain untuk ikut berbagi testimoni ini ya. Jangan mau kalah dengan mereka!


Caranya mudah:
1. Tinggal menulis di blog Demi Pustaka Jaya
2. Bisa juga menulis di FB Pustaka Jaya
3. Atau bisa juga lewat twitter dengan hashtag #SavePustakaJaya dengan cc ke twitter @scriptozoid

Jangan lupa untuk mencantumkan nama ya.

[AS]

Selamatkan Pustaka Jaya! #SavePustakaJaya



Blog "Demi Pustaka Jaya"


Facebook Pages "Pustaka Jaya", klik "Like" untuk #SavePustakaJaya


Latar Belakang
Siapa tak kenal Pustaka Jaya? Menyebut namanya, paling tidak ada dua hal yang paling kita ingat. Pertama, dia adalah penerbit buku sastra bermutu. Kedua, nama besar sastrawan Ajip Rosidi yang membesarkannya.

Menurut Ajip Rosidi dalam buku otobiografinya, “Hidup Tanpa Ijazah, Yang Terekam Dalam Kenangan,” lahirnya Pustaka Jaya bukanlah hasil dari suatu seminar atau pertemuan para sastrawan. Ia berawal dari sebuah percakapan ringan di awal 1970-an antara dirinya dengan Ali Sadikin yang menjabat gubernur Jakarta waktu itu. Ajip Rosidi mengatakan, “Kebanyakan penerbit, terutama mendahulukan mencari keuntungan, sehingga menerbitkan buku itu hanya yang nyata-nyata dicari oleh masyarakat. Penerbit buku bacaan yang baik, seperti dahulu Balai Pustaka tidak ada lagi. Dahulu pemerintah Hindia Belanda memberikan subsidi untuk Balai Pustaka, tapi pemerintah kita tidak. Bahkan Balai Pustaka pernah diberhentikan fungsinya sebagai penerbit. Hanya dijadikan percetakan saja,” urai Ajip kepada sang Gubernur. Akhirnya Ali Sadikin setuju mendanai penerbitan baru. Juga sejumlah pengusaha. Pada Mei 1971, penerbit itu pun resmi berdiri.
Ajip berpendapat bahwa yang pertama-tama harus dia jual bukanlah produk buku, melainkan gagasan. Gagasan agar para guru dan orangtua mendidik anak-anaknya supaya suka membaca. Soalnya, bagaimana meningkatkan kegemaran membaca di kalangan anak-anak sejak usia dini. Ajip sering berkeliling ke sekolah-sekolah dasar maupun menengah di Ibu Kota maupun di luar Jakarta. Dia berkeliling untuk memberikan ceramah-ceramah tentang pentingnya siswa banyak membaca dan pentingnya sekolah memiliki perpustakaan.

Hasilnya segera tampak! Pembaca merespons. Dalam katalog daftar buku tahun 1984, tercatat Pustaka Jaya waktu itu telah menerbitkan lebih dari 600 judul buku dengan lebih dari 10 juta eksemplar. Itu artinya, hampir setiap minggu ada buku baru yang diterbitkan oleh Pustaka Jaya. Dan dari jumlah 10 juta eksemplar itu, lebih dari sembilan juta terserap oleh perpustakaan-perpustakaan sekolah dan perpustakaan umum.

Nasib Pustaka Jaya Kini
Pustaka Jaya kini perlu diselamatkan! Kekeliruan kebijakan dan salah urus di era 1990-an membawanya ke tepi jurang. “Kami anfal tahun 90-an.” Kerjanya hanya mencetak ulang buku-buku lama untuk bertahan hidup. Pembenahan dilakukan dengan memperbaiki sistem. Tapi masih ada yang kurang.

Jika penerbit lain telah memiliki website dan memanfaatkan media online untuk memasarkan buku-buku mereka, tidak demikian halanya Pustaka Jaya. Menurut manajernya, Ahmad Rivai, dunia maya atau website baru berupa angan-angan, belum merupakan prioritas. Ia menyebut krisis keuangan yang dialami Pustaka Jaya dahulu cukup parah. “Ibaratnya, sakit yang kami alami telah memasuki stadium dua. Sehingga sampai sekarang Pustaka Jaya masih dalam tahap pemulihan supaya bisa kembali menjadi perusahaan yang sehat,” kata Rivai.

Maka dari itu mengharapkan Pustaka Jaya kembali sehat membutuhkan uluran tangan pembaca, terutama para pembaca setia yang dulu menikmati booming buku sastra bermutu dari Pustaka Jaya! Mari selamatkan Pustaka Jaya bersama-sama.

Sumber penulisan:
1. Seluruhnya berasal dari artikel “Pustaka Jaya: Masih di Jalur Bahasa/Sastra” karya Sahala Napitupulu, majalah TAPIAN edisi Maret 2009
2. Pertemuan Amat Semangat dengan Ahmad Rivai, 4 Oktober 2011

Katalog Buku yang Ditarik dari Toko Buku:
01. Mahabarata
02. Ramayana
03. Hidup Tanpa Ijazah
04. Prajurit Schweik
05. Anak Tanah Air
06. Masyitoh
07. Puisi Indonesia Modern
08. Kiai Haman Dja’far dan Pondok Pabelan
09. Si Kabayan
10. Catatan dari Bawah Tanah
11. Rumah Tangga yang Bahagia
12. Munculnya Elit Modern Indonesia
13. Dataran Tortilla
14. Haji Murat
15. Tiga Pesona Sunda Kuna
16. Cinta Pertama
17. Romeo dan Julia
18. Oidipus Sang Raja
19. Rubaiyat Umar Khayyam
20. Korupsi dan Kebudayaan
21. Orang dan Bambu Jepang


Silakan lihat di: http://demipustakajaya.wordpress.com untuk mendapat info terkini termasuk melakukan pemesanan online buku-buku Pustaka Jaya.