Terobosan New Media

Upaya mencari solusi untuk menumbuhkan harapan perbaikan perbukuan di Indonesia.

Upaya Memahami Pembaca

Komunikasi antara penerbit dan pembaca perlu dibangun lebih erat dengan pendekatan-pendekatan yang sifatnya strategis perlu dibangun, kalau memang ada keinginan untuk menciptakan iklim yang lebih baik.

Menyikapi Pembakaran Buku

Belum genap dua tahun kita bebas dari rezim pelarangan buku lewat tangan Kejagung, akhirnya kita harus alami kembali peristiwa pelarangan dan pembakaran buku.

Ikhtiar Bersama Demi Amanat Pak Raden

Gilang-gemilang ingatan orang akan sosok Pak Raden dan sukses besar Si Unyil bertahan sebagai warisan budaya visual ternyata tak disertai dengan kesejahteraan bagi penciptanya. Ini adalah ikhtiar yang diupayakan untuk mengembalikan haknya.

Tampilkan postingan dengan label 2011. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2011. Tampilkan semua postingan

Di Balik Publikasi: Kisah Perjalanan #Twitteriak Season 1

Obrolan #Twitteriak
SEJAK obrolan #Twitteriak dimulai 3 November 2011 lalu hingga hari ini, banyak orang memberi apresiasi kepada kami sebagai pengelola obrolan mingguan itu. Sebetulnya, hal ini perlu diluruskan. Karena apresiasi ini seharusnya dialamatkan pada semua yang terlibat pada proses penciptaan #Twitteriak hingga menjadi obrolan yang selalu dinantikan: Allah SWT, para penulis, penerjemah, editor, peresensi, penerbit, ilustrator, pendongeng, sutradara, para pembaca, para Tweereaks, dan lainnya.

Sejatinya #Twitteriak hanyalah "wadah" yang diciptakan untuk membuat obrolan mengenai dunia penulisan dan membaca dapat menjadi alternatif selain obrolan politik, ekonomi, gosip, dan lain-lain. Sesekali di ranah twitter tersedia ruang bagi mereka yang punya banyak gagasan itu untuk berbagi, untuk mengungkapkan isi pikirannya. Juga sekaligus memberi ruang bagi khalayak lebih luas untuk bertanya kepada yang membagi, menggali manfaat yang bisa digunakannya sendiri kelak suatu hari nanti.

Belajar dari Banyak Orang, Belajar dari Kesalahan
Sebagai "wadah", obrolan #Twitteriak masih belia. Selama Season 1 ini, lebih banyak belajar dan uji coba. Belajar dari banyak orang. Belajar juga dari kesalahan. Salah satu pokok bahan belajar adalah program sejenis yang lebih dulu hadir: Twitalk.

Twitalk dikreasi oleh Pungkas Riandika (Salingsilang.com)

Twitalk merupakan program wawancara via Twitter kreasi Pungkas Riandika (@pungkas). Soal format, kami banyak belajar dari Twitalk ini. Yang membedakan, hanyalah topik dan tamunya. Kalau Twitalk lebih umum, di obrolan #Twitteriak lebih khusus: seputar buku, film, kondisi sosial dan sejarah dengan tujuan lebih spesifik lagi yakni publikasi. Perjumpaan dengan Twitalk ini terjadi karena kami ikut serta dalam Social Media Festival 2011 lalu dan melihat peluang, seandainya ada wadah khusus hanya untuk dunia menulis dan membaca. Dari sanalah, gagasan ini lahir.


Di Balik Publikasi: Tahap Ketiga Video Adaptasi Fit For School




Bulan Maret ini, Tanam Ide Kreasi kembali mendapat kepercayaan dari klien kami, Savica Public Health Advisory and Communication Consultancy untuk mengerjakan tahap ketiga atau tahap akhir dari seluruh rangkaian video adaptasi Fit For School, organisasi kesehatan yang fokus pada penerapan Program Pelayanan Kesehatan Dasar (PPKD).

Video adaptasi ketiga berisi hal-hal apa saja yang menjadi pertimbangan saat membangun fasilitas kesehatan dasar. Video ini berdurasi hampir 10 menit dan melibatkan voice talents paling banyak. Seharusnya ada 12 suara yang perlu diadaptasi, tetapi untuk mempermudah proses pengerjaan, ditetapkan 6 pengisi suara untuk mengerjakannya.


Jangkauan dan Eksposur ALINEA TV


Diukur dengan TweetReach, jangkauan dan eksposur produk new media Scriptozoid! - ALINEA TV Webisode Buku #1 di Indonesia - ternyata amat menggembirakan.


Sejak di-soft launching pada hari Jumat, 16 Desember 2011 lalu, per 20 Desember 2011 ALINEA TV di http://alinea-tv.blogspot.com sudah menjangkau 6,379 orang dan telah menghasilkan lebih dari 10,160 impresi.

Terima kasih atas dukungan dan doa teman-teman. Terus kunjungi ALINEA TV dan nikmati pengalaman baru mendapatkan informasi mengenai dunia membaca dan menulis di Indonesia.

[AS]

Di Balik Publikasi: Fit for School

Life is one big road with lots of signs. So when you riding through the ruts, don't complicate your mind. Flee from hate, mischief and jealousy. Don't bury your thoughts, put your vision to reality. Wake Up and Live! -- Bob Marley

JALAN sudah dibukakan dan hari demi hari, perjalanan Scriptozoid! sebagai produser dan publisis kian melangkah semakin jauh. Tantangan demi tantangan sudah dilalui dan baru-baru ini tantangan untuk mengalihbahasakan video edukasi Fit for School telah ditaklukkan dengan baik. Klien Scriptozoid! yang jauh-jauh datang dari Filipina puas atas hasil kerja keras pengadaptasian ini dan momen ini membuka peluang baru untuk kerjasama berikutnya yang sudah menanti di tahun 2012.

Scriptozoid! untuk Fit for School

Meski sempat sport jantung dan khawatir akan seluruh proses pengerjaannya di studio audio, tetapi lampu sorot sudah benderang menyinari proyek ini di tahap akhir. Jadi terima kasih Tuhan dan terima kasih pada seluruh tim dan mitra yang sudah banyak membantu kinerja Scriptozoid!

[AS]

SOFT LAUNCHING Alinea TV - Webisode Buku #1 di Indonesia

Telah diluncurkan Alinea TV - Webisode Buku #1 di Indonesia (SOFT LAUNCHING)

Screenshot Alinea TV - Webisode Buku #1 di Indonesia
 

Bagi teman-teman sekalian yang ingin menikmati cara baru mendapatkan informasi terbaru dan aktual tentang dunia buku lewat media audio-visual, silakan mampir ke VLOG http://alinea-tv.blogspot.com/ produksi Scriptozoid!

Besar harapan upaya ini dapat dukungan dari banyak pihak termasuk para pembaca sekalian. Tolong bantu sebarkan informasi ini ya teman-teman dengan menyertakan taut ke http://alinea-tv.blogspot.com

Vlog ini menggunakan themes Bloggertube yang disediakan oleh Bloggerthemes, sedangkan kontennya selain diproduksi Scriptozoid! juga menggunakan video yang tersedia di Youtube. Semua konten selalu book-related atau berkaitan dengan dunia buku (membaca dan menulis).

Jadi tunggu apalagi, segeralah mampir ke:
ALINEA TV 

dan temukan pengalaman baru untuk mendapatkan informasi terkini dan teraktual tentang dunia buku di Indonesia.

[AS]

Proyek Publikasi: Fit for School

Alih bahasa bukan persoalan sederhana. Apalagi kalau mediumnya adalah audio-visual. Inilah yang membuat pekerjaan pengadaptasian video edukasi tentang kesehatan anak ini jadi menarik dan menantang untuk dikerjakan. Pekerjaan ini merupakan bagian kecil dari serangkaian pekerjaan publikasi untuk mendukung kampanye Fit for School (Sehat ke Sekolah) dan Scriptozoid! merasa senang bisa terlibat ambil bagian.

Demi Masa Depan Anak-Anak
Melihat anak-anak tumbuh sehat adalah impian semua orang tua. Tapi kita tahu, problem kesehatan selalu seperti pisau bermata dua. Sehat sepertinya selalu mahal. Biaya ke dokter dan beli obat bisa menguras kantong. Itu cerita yang jamak kita temui.

Fit for School sebagai organisasi nirlaba menemukan terobosan sederhana: cuci tangan dengan sabun, sikat gigi dengan pasta gigi berfluoride dan minum obat cacing setahun dua kali. Tiga hal itu sukses dilakukan di sekolah dan generasi anak di Filipina menjadi buktinya. Kini giliran Indonesia.

#Twitteriak Eps. 3 bersama @febyindirani (Feby Indirani)

TANPA JEDA menata hati dan pikiran. Itulah gambaran proses kreatif Feby Indirani, penulis dan sekaligus jurnalis kelahiran Jakarta, 15 Februari 1979. Mengaku prosesnya menjadi pencerita diawali dengan menulis diary/journal yang dilakoninya tanpa lelah sejak kecil, kini darinya telah lahir beragam judul buku dan lintas genre.

Sebut saja novel pertamanya Simfoni Bulan (Mediakita, 2006), lalu novel-novel adaptasi dari skenario film seperti Cewe Matrepolis dan Lantai 13, novel fiksi-musikal Gerimis, hingga non-fiksi berjudul I Can (Not) Hear (Gagasmedia, 2009) yang meraih sebagai pemenang buku favorit non-fiksi di Anugerah Pembaca Indonesia 2010. Tahun 2011 ini, Feby Indirani baru saja melahirkan karya terbaru Clara’s Medal, novel yang berkisah tentang 16 remaja yang mengikuti Olimpiade Fisika, yang disebut-sebut berkaitan dengan buku dan film seMesta menduKung dari Mizan Production.

Di sisi lain, Feby juga masih tercatat aktif sebagai jurnalis dan prestasinya di bidang jurnalistik mengundang decak kagum. Oleh karena itu, siang ini (17/11) Scriptozoid! mengajak Feby Indirani (@febyindirani) untuk ngobrol di TWITTERIAK seputar arti menulis, proses kreatif, dan tentu saja novel terbarunya: Clara’s Medal.

#Twitteriak Eps. 2 bersama @salmanaristo (Salman Aristo)

Akhir bulan Oktober 2011, Scriptozoid! mendapat kesempatan menonton screening film karya terbaru Salto Films di XXI Pondok Indah. Peluang yang langka untuk bisa hadir di screening film paling dinanti tahun ini: Sang Penari.

Mengapa Sang Penari istimewa? Pertama-tama karena ia diangkat dari trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, sebuah tonggak sastra yang penting, pembuktian diktum “ketika jurnalisme dibungkam, sastra bicara” yang pernah disebut-sebut Seno Gumira Ajidarma. Diktum itu ada benarnya, karena pada konteks karya ini terbit, Orde Baru di bawah Presiden Soeharto ‘rajin’ membredel pers dan memfilter berita apapun yang terkait dengan peristiwa ’65.

Ahmad Tohari menyebut apa yang terjadi di masa kecilnya itu, di tahun 1965 sebagai sebuah ‘prahara politik’ atau ‘turbulensi sejarah’. Sebuah peristiwa yang bila dilongok sekarang, terasa begitu jauh, tak terjamah. Namun dengan tinta penanya, Ahmad Tohari menghasilkan mahakarya trilogi Ronggeng Dukuh Paruk yang menggambarkan peristiwa ’65 dari sudut pandang masyarakat di dusun yang begitu kecil (dan tentu saja tidak nyata): Dukuh Paruk.


#Twitteriak Eps. 1 bersama @fahdisme (Fahd Djibran)


Fahd Pahdepie, atau dikenal dengan nama pena Fahd Djibran, adalah seorang penulis muda berbakat kelahiran Cianjur, 22 Agustus 1986. Ia menaruh minat pada filsafat, seni, spiritualitas, dan musik. Sebagai penulis, ia terbilang produktif. Buku-bukunya antara lain: A Cat in My Eyes (2008), Curhat Setan (2009), Rahim: Sebuah Dongeng Kehidupan, Menatap Punggung Muhammad (2010), Yang Galau, Yang Meracau (2011) dan belum lama ini meluncurkan Hidup Berawal dari Mimpi, karya kolaborasi bersama Bondan Prakoso & Fade2Black dalam bentuk “fiksi-musikal”.

Tapi masih ada lagi kejutan dari Fahd Djibran. Maka menjelang makan siang (3 November 2011), Scriptozoid! membuka obrolan #Twitteriak bersama penulis muda berbakat Fahd Djibran!

Scriptozoid!: Selepas karya fiksi-musikal Hidup Berawal dari Mimpi bareng Bondan dan Fade2Black, sekarang lagi sibuk apa?
Fahd Djibran: Hi! Nggak sibuk sih, aktivitas biasa aja, sambil garap project fiksi audio-visual di Revolvere Project.

Scriptozoid!: Apa cerita di balik project Revolvere itu? Itu proyek hibrida sastra-musik-visual ya?
Fahd Djibran: Visinya ke arah sana. Kami membayangkan fiksi bisa “tetap dibaca”, tetap sebagai bacaan tapi dengan sensasi yang berbeda.


Testimoni Arti Pustaka Jaya Bagimu...

Mengajak semua orang untuk berbagi testimoni, apa arti Pustaka Jaya bagimu. Ajak juga teman-teman yang lain untuk ikut berbagi testimoni ini ya. Jangan mau kalah dengan mereka!


Caranya mudah:
1. Tinggal menulis di blog Demi Pustaka Jaya
2. Bisa juga menulis di FB Pustaka Jaya
3. Atau bisa juga lewat twitter dengan hashtag #SavePustakaJaya dengan cc ke twitter @scriptozoid

Jangan lupa untuk mencantumkan nama ya.

[AS]

ALINEA - Interview + Save Pustaka Jaya | Sang Pembelajar dari Kehidupan



Di webisode ALINEA kali ini berisi lanjutan interview dengan Agustinus Wibowo disertai pendapat dari Heru Margianto (editor Kompas.com) yang berkisah kalau Agustinus adalah seorang pembelajar dari kehidupan. Diakhiri dengan wawancara dengan Ajip Rosidi, sastrawan dan pendiri Pustaka Jaya yang berbagi soal kesulitan yang dihadapi Pustaka Jaya sekarang ini.
Produksi: Scriptozoid!, 2011
Host: Amat Semangat

Selamatkan Pustaka Jaya! #SavePustakaJaya



Blog "Demi Pustaka Jaya"


Facebook Pages "Pustaka Jaya", klik "Like" untuk #SavePustakaJaya


Latar Belakang
Siapa tak kenal Pustaka Jaya? Menyebut namanya, paling tidak ada dua hal yang paling kita ingat. Pertama, dia adalah penerbit buku sastra bermutu. Kedua, nama besar sastrawan Ajip Rosidi yang membesarkannya.

Menurut Ajip Rosidi dalam buku otobiografinya, “Hidup Tanpa Ijazah, Yang Terekam Dalam Kenangan,” lahirnya Pustaka Jaya bukanlah hasil dari suatu seminar atau pertemuan para sastrawan. Ia berawal dari sebuah percakapan ringan di awal 1970-an antara dirinya dengan Ali Sadikin yang menjabat gubernur Jakarta waktu itu. Ajip Rosidi mengatakan, “Kebanyakan penerbit, terutama mendahulukan mencari keuntungan, sehingga menerbitkan buku itu hanya yang nyata-nyata dicari oleh masyarakat. Penerbit buku bacaan yang baik, seperti dahulu Balai Pustaka tidak ada lagi. Dahulu pemerintah Hindia Belanda memberikan subsidi untuk Balai Pustaka, tapi pemerintah kita tidak. Bahkan Balai Pustaka pernah diberhentikan fungsinya sebagai penerbit. Hanya dijadikan percetakan saja,” urai Ajip kepada sang Gubernur. Akhirnya Ali Sadikin setuju mendanai penerbitan baru. Juga sejumlah pengusaha. Pada Mei 1971, penerbit itu pun resmi berdiri.
Ajip berpendapat bahwa yang pertama-tama harus dia jual bukanlah produk buku, melainkan gagasan. Gagasan agar para guru dan orangtua mendidik anak-anaknya supaya suka membaca. Soalnya, bagaimana meningkatkan kegemaran membaca di kalangan anak-anak sejak usia dini. Ajip sering berkeliling ke sekolah-sekolah dasar maupun menengah di Ibu Kota maupun di luar Jakarta. Dia berkeliling untuk memberikan ceramah-ceramah tentang pentingnya siswa banyak membaca dan pentingnya sekolah memiliki perpustakaan.

Hasilnya segera tampak! Pembaca merespons. Dalam katalog daftar buku tahun 1984, tercatat Pustaka Jaya waktu itu telah menerbitkan lebih dari 600 judul buku dengan lebih dari 10 juta eksemplar. Itu artinya, hampir setiap minggu ada buku baru yang diterbitkan oleh Pustaka Jaya. Dan dari jumlah 10 juta eksemplar itu, lebih dari sembilan juta terserap oleh perpustakaan-perpustakaan sekolah dan perpustakaan umum.

Nasib Pustaka Jaya Kini
Pustaka Jaya kini perlu diselamatkan! Kekeliruan kebijakan dan salah urus di era 1990-an membawanya ke tepi jurang. “Kami anfal tahun 90-an.” Kerjanya hanya mencetak ulang buku-buku lama untuk bertahan hidup. Pembenahan dilakukan dengan memperbaiki sistem. Tapi masih ada yang kurang.

Jika penerbit lain telah memiliki website dan memanfaatkan media online untuk memasarkan buku-buku mereka, tidak demikian halanya Pustaka Jaya. Menurut manajernya, Ahmad Rivai, dunia maya atau website baru berupa angan-angan, belum merupakan prioritas. Ia menyebut krisis keuangan yang dialami Pustaka Jaya dahulu cukup parah. “Ibaratnya, sakit yang kami alami telah memasuki stadium dua. Sehingga sampai sekarang Pustaka Jaya masih dalam tahap pemulihan supaya bisa kembali menjadi perusahaan yang sehat,” kata Rivai.

Maka dari itu mengharapkan Pustaka Jaya kembali sehat membutuhkan uluran tangan pembaca, terutama para pembaca setia yang dulu menikmati booming buku sastra bermutu dari Pustaka Jaya! Mari selamatkan Pustaka Jaya bersama-sama.

Sumber penulisan:
1. Seluruhnya berasal dari artikel “Pustaka Jaya: Masih di Jalur Bahasa/Sastra” karya Sahala Napitupulu, majalah TAPIAN edisi Maret 2009
2. Pertemuan Amat Semangat dengan Ahmad Rivai, 4 Oktober 2011

Katalog Buku yang Ditarik dari Toko Buku:
01. Mahabarata
02. Ramayana
03. Hidup Tanpa Ijazah
04. Prajurit Schweik
05. Anak Tanah Air
06. Masyitoh
07. Puisi Indonesia Modern
08. Kiai Haman Dja’far dan Pondok Pabelan
09. Si Kabayan
10. Catatan dari Bawah Tanah
11. Rumah Tangga yang Bahagia
12. Munculnya Elit Modern Indonesia
13. Dataran Tortilla
14. Haji Murat
15. Tiga Pesona Sunda Kuna
16. Cinta Pertama
17. Romeo dan Julia
18. Oidipus Sang Raja
19. Rubaiyat Umar Khayyam
20. Korupsi dan Kebudayaan
21. Orang dan Bambu Jepang


Silakan lihat di: http://demipustakajaya.wordpress.com untuk mendapat info terkini termasuk melakukan pemesanan online buku-buku Pustaka Jaya.

On Going Project: Clara’s Medal karya Feby Indirani

Novel remaja ini menanti digarap publikasinya dalam waktu dekat. Ditulis dengan apik oleh Feby Indirani, penulis muda yang tahun lalu meraih Anugerah Pembaca Indonesia 2010 untuk kategori buku non-fiksi lewat karyanya “I Can (not) Hear” terbitan Gagas Media. Betul-betul tidak menyangka dan kejutan, boleh dipercaya untuk menggarap publikasi buku ini.

So wish me good luck! Semoga menuai sukses.
——————-
DESKRIPSI BUKU:
 
Clara’s Medal
Karya Feby Indirani
Terbit September 2011 oleh Qanita
Paperback, 484 halaman.
ISBN13: 9786029225044
Kategori: Remaja
TAUT:
Clara’s Medal di Goodreads http://www.goodreads.com/book/show/12840578-clara-s-medal

SAMPUL BELAKANG:
“Saya kira tidak adil, Pak, kalau Bagas tetap bisa ikut Olimpiade,” tiba-tiba Meddy dengan lantang angkat bicara.

“Memangnya relevan, ya?” ganti Clara angkat bicara. “Bukannya tim Olimpiade adalah siapa pun yang lulus seleksi? Kalau kasus Bagas dikait-kaitkan dengan FUSI, itu kan media yang melakukannya.”

“Sangat relevan, Ra,” tukas Meddy menyambung Angga. Nada suaranya agak keras. “Ketika kita semua bekerja keras untuk mewakili negara ini, Bagas malah melakukan tindakan melanggar undang-undang. Itu kan kontradiktif!”

Di tengah panasnya persaingan para peserta pelatihan untuk menjadi anggota tim Olimpiade Fisika, kasus hacking yang dilakukan salah satu peserta pelatihan, Bagas, muncul ke permukaan. Lembaga pelatihan FUSI—Fisika untuk Siswa Indonesia—kini menjadi sorotan.

Para sponsor mulai menarik dananya untuk lembaga tersebut. Keberangkatan tim ke ajang Olimpiade Fisika Internasional pun terancam gagal. Padahal merekalah putra-putri terbaik dari berbagai daerah di Indonesia yang akan berjuang mengharumkan nama bangsa di ajang internasional itu. Bagi mereka gagal berangkat ke Olimpiade membuat kerja keras mereka selama ini menjadi sia-sia.

Dengan didorong semangat Mestakung, akankah para peserta pelatihan itu mampu mengubah keadaan dan tetap berangkat untuk mengharumkan nama bangsa?

Di Balik Publikasi: “Master 18″ karya Soegeanto Tan

Selanjutnya menggarap positioning buku ini. Yang membedakan buku “Master 18″ adalah semangat nasionalisme, sisi ini yang harus muncul dan harus terus hidup. Semua orang kini berada dalam titik jenuh akan identitas “ke-Indonesia-an” dan ini merupakan insight yang sangat bagus untuk digunakan memperkuat positioning buku ini. Maka makin dilekatkanlah aspek nasionalisme yang nantinya saya bawa juga ke acara peluncuran bukunya, tanggal 1 Oktober 2011 bertepatan dengan hari nasional. Memetakan positioning buku adalah pekerjaan yang harus dan tidak bisa tidak diabaikan kalau mau publikasi buku “Master 18″ ini berjalan dengan baik. Sekarang tinggal menentukan diferensiasinya dan kelompok pembaca pendukung.



Saya memiliki keuntungan dengan dengan teman-teman pembaca yang muda dan penuh semangat. Satu kelebihan dari kelompok pembaca ini adalah potensi mereka untuk menjadi kelompok sekuat Kirkus Review di luar negeri. Potensi ini harus ditemukan lebih dulu memang, tetapi saya yakin embrio generasi kritikus buku baru sudah ada, tinggal memolesnya. Tantangannya besar dan saya yakin teman-teman ini mampu mengatasinya dengan keterbukaan mereka.


Lewat korespondensi akhirnya saya yakinkan buku motivasi ini tidak akan mengecewakan mereka sebagai pembaca awal. Dan betul saja, kejujuran para penulis review ini membuat saya yakin langkah strategis saya sudah tepat. Kita tinggal menunggu percepatannya saja.



Formula percepatan ini dimulai dari peluncuran buku itu sendiri. Diselenggarakan di Newseum Cafe, yang dimiliki oleh budayawan terkenal Taufik Rahzen, tokoh di balik penyelamatan gedung Indonesia Menggugat yang secara luar biasa justru salah satu pendorong sukses publikasi peluncuran buku “Master 18″ tempo hari. Segala sesuatu sudah disiapkan, tinggal melihat apakah saya bisa melampaui titik psikologis buku ini.

Di Balik Publikasi: “Master 18″ karya Soegeanto Tan

Sebuah kampanye efektif 12 minggu saya rancang! Rumusan 12 minggu ini saya temukan selama proses saya berinteraksi dengan komunitas pembaca. Terdiri dari channel yang berbeda-beda tetapi dengan tujuan awal: awareness! Betapa clutternya buku begitu masuk ke dalam toko buku. Probabilitas buku dikenal pembaca bila dihitung dengan statistik menjadi luar biasa kecil, untuk itu publikasi lewat kampanye efektif diperlukan.

Setelah gagasan diterima, akhirnya proyek “Fun Master” ini saya gulirkan. Yang pertama harus segera jadi adalah personal branding penulis. Perangkatnya sudah disiapkan, tinggal menyelaraskan penulis dengan perangkat yang sudah ada. Proses penyelarasan sendiri lumayan makan waktu, tapi akhirnya cukup lancar.
Blog penulis berisi free excerpt isi buku juga dirancang. Modelnya mengikuti prinsip penulis Paulo Coelho. Orang bebas melihat isi bukunya, tanpa perlu khawatir akan mengganggu penjualan buku. Menemukan pembaca yang tepat adalah tantangan terbesar bagi setiap penulis, sehingga membuka akses pada isi buku semakin memberi “ruang hangat” bagi interaksi penulis dan pembaca.

Silakan berkunjung ke blog penulis untuk melihat bagaimana saya merancang publikasi buku ini integrated secara digital. Alamat blognya: http://www.funmaster18.com

Di Balik Publikasi: “Master 18″ karya Soegeanto Tan

Debut publikasi Scriptozoid! diawali dari buku berjudul “Master 18″ ini. Bagaimana ceritanya buku ini sampai saya tangani publikasinya ternyata unik sekali. Karena tawaran ini justru datang tak lama setelah saya berdiskusi tentang minimnya komunikasi dan dukungan pada penulis-penulis buku di Indonesia. Teman saya itu bukan orang penerbitan, bukan juga bagian dari industri komunikasi. Tapi justru karena kenal lama, dia tahu seberapa serius saya dengan niat saya.


Lewat fasilitasinya, akhirnya saya bertemu dengan penulis baru. Namanya Soegeanto. Relatif muda, baru hendak menginjak kepala 4, usia yang selalu disebut-sebut orang dengan diktum “life is begin at 40!”. Karena bidang ini juga relatif baru saya kuasai, saya banyak berkonsultasi dengan sejumlah teman dan mengajak mitra kerja. Jadilah sore itu, kami berdiskusi cukup panjang tentang buku yang akan segera diterbitkan oleh penerbit Elex Media (grup Gramedia) di akhir September.

Ternyata obrolannya betul-betul harus merangkak dari nol. Sebagai penulis baru, Soegeanto betul-betul memasukinya begitu saja. Diterbitkan saja sudah senang… mungkin itu euforia yang dialaminya. Padahal sebagai penulis, ia berhak atas sejumlah hal yang sudah seharusnya menjadi tanggung jawab penerbit. Jadi saya sarankan ia meminta banyak hal yang sudah menjadi haknya. * langsung mikir membuat workshop singkat gitu soal hak penulis *

Pendeknya, Soegeanto cocok dengan misi saya. Saya pun demikian. Soal genre bukunya yang masuk kategori motivasi/psikologi populer saya tidak punya masalah, asalkan jangan terlalu mengada-ada. Saya dapat ebooknya, kelihatannya draft kesekian dari hasil tulisannya (mungkin ke arah ARC) dan membacanya. Ternyata saya temukan hal yang sangat luar biasa dalam buku ini. Bukan sekedar buku motivasi yang melulu bicara soal sukses. Buku ini membawa semangat jauh lebih besar: “mencetak generasi muda yang lebih baik untuk Indonesia.”

ALINEA - Interview Agustinus Wibowo | Kisah Seorang Penulis Cerita Perja...



Nama Agustinus Wibowo, penulis buku Selimut Debu dan Garis Batas, melambung sejak ditemukan oleh Maggie Tiojakin dan kemudian dimuat secara berkala di Kompasdotcom oleh Heru Margianto. Simak obrolan serunya mengenai motivasi, proses kreatif, dan kisah pengembaraannya di webisode ALINEA .

Produksi: Scriptozoid!, 2011
Host: Amat Semangat

ALINEA - Timbangan Buku | "Meraba Indonesia" karya Ahmad Yunus

ALINEA - Edisi Spesial | Jostein Gaarder berkunjung ke Indonesia

ALINEA - Interview Nh Dini | Kabar Terkini Nh Dini