Terobosan New Media

Upaya mencari solusi untuk menumbuhkan harapan perbaikan perbukuan di Indonesia.

Upaya Memahami Pembaca

Komunikasi antara penerbit dan pembaca perlu dibangun lebih erat dengan pendekatan-pendekatan yang sifatnya strategis perlu dibangun, kalau memang ada keinginan untuk menciptakan iklim yang lebih baik.

Menyikapi Pembakaran Buku

Belum genap dua tahun kita bebas dari rezim pelarangan buku lewat tangan Kejagung, akhirnya kita harus alami kembali peristiwa pelarangan dan pembakaran buku.

Ikhtiar Bersama Demi Amanat Pak Raden

Gilang-gemilang ingatan orang akan sosok Pak Raden dan sukses besar Si Unyil bertahan sebagai warisan budaya visual ternyata tak disertai dengan kesejahteraan bagi penciptanya. Ini adalah ikhtiar yang diupayakan untuk mengembalikan haknya.

Tampilkan postingan dengan label SPJ. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SPJ. Tampilkan semua postingan

Pemuatan Kampanye #SavePustakaJaya di Harian Detik

Seminggu lalu, Raisya wartawan Harian Detik mewawancarai saya tentang kegiatan kampanye #SavePustakaJaya. Wawancara ini sendiri berlangsung cukup intens di sela jadwal kerja yang padat. Pada intinya, dari sisi wartawan, perihal nasib Pustaka Jaya ini sepertinya luput dari perhatian kalau saja tidak ada gerakan kampanye para pembaca untuk mencoba menyelamatkannya.

Dari saya, tentu saja berharap Pustaka Jaya benar-benar bisa “selamat” dalam badai perindustrian perbukuan. Tetapi semua kembali pada mereka. Karena yang penting diketahui lewat gerakan kampanye #SavePustakaJaya adalah sebuah pesan psikologis baik kepada penerbit Pustaka Jaya maupun kepada masyarakat luas bahwa keberadaan mereka penting dan banyak pembaca yang betul-betul peduli, meskipun dalam tempo yang pendek ini hanya “kecil” nilai sumbangsihnya.

Artikel "Berharap Pustaka Kembali Jaya"

Hasil wawancara sendiri sudah naik cetak pada Sabtu, 21 Januari 2012 di Harian Detik pagi dengan judul “Berharap Pustaka Kembali Jaya”. Terima kasih atas kesempatan pemuatan kisah Pustaka Jaya ini ke media cetak Harian Detik dan semoga semakin banyak pembaca yang menyadari apa yang sedang diperjuangkan bersama-sama oleh kegiatan ini.

Testimoni Arti Pustaka Jaya Bagimu...

Mengajak semua orang untuk berbagi testimoni, apa arti Pustaka Jaya bagimu. Ajak juga teman-teman yang lain untuk ikut berbagi testimoni ini ya. Jangan mau kalah dengan mereka!


Caranya mudah:
1. Tinggal menulis di blog Demi Pustaka Jaya
2. Bisa juga menulis di FB Pustaka Jaya
3. Atau bisa juga lewat twitter dengan hashtag #SavePustakaJaya dengan cc ke twitter @scriptozoid

Jangan lupa untuk mencantumkan nama ya.

[AS]

ALINEA - Interview + Save Pustaka Jaya | Sang Pembelajar dari Kehidupan



Di webisode ALINEA kali ini berisi lanjutan interview dengan Agustinus Wibowo disertai pendapat dari Heru Margianto (editor Kompas.com) yang berkisah kalau Agustinus adalah seorang pembelajar dari kehidupan. Diakhiri dengan wawancara dengan Ajip Rosidi, sastrawan dan pendiri Pustaka Jaya yang berbagi soal kesulitan yang dihadapi Pustaka Jaya sekarang ini.
Produksi: Scriptozoid!, 2011
Host: Amat Semangat

Selamatkan Pustaka Jaya! #SavePustakaJaya



Blog "Demi Pustaka Jaya"


Facebook Pages "Pustaka Jaya", klik "Like" untuk #SavePustakaJaya


Latar Belakang
Siapa tak kenal Pustaka Jaya? Menyebut namanya, paling tidak ada dua hal yang paling kita ingat. Pertama, dia adalah penerbit buku sastra bermutu. Kedua, nama besar sastrawan Ajip Rosidi yang membesarkannya.

Menurut Ajip Rosidi dalam buku otobiografinya, “Hidup Tanpa Ijazah, Yang Terekam Dalam Kenangan,” lahirnya Pustaka Jaya bukanlah hasil dari suatu seminar atau pertemuan para sastrawan. Ia berawal dari sebuah percakapan ringan di awal 1970-an antara dirinya dengan Ali Sadikin yang menjabat gubernur Jakarta waktu itu. Ajip Rosidi mengatakan, “Kebanyakan penerbit, terutama mendahulukan mencari keuntungan, sehingga menerbitkan buku itu hanya yang nyata-nyata dicari oleh masyarakat. Penerbit buku bacaan yang baik, seperti dahulu Balai Pustaka tidak ada lagi. Dahulu pemerintah Hindia Belanda memberikan subsidi untuk Balai Pustaka, tapi pemerintah kita tidak. Bahkan Balai Pustaka pernah diberhentikan fungsinya sebagai penerbit. Hanya dijadikan percetakan saja,” urai Ajip kepada sang Gubernur. Akhirnya Ali Sadikin setuju mendanai penerbitan baru. Juga sejumlah pengusaha. Pada Mei 1971, penerbit itu pun resmi berdiri.
Ajip berpendapat bahwa yang pertama-tama harus dia jual bukanlah produk buku, melainkan gagasan. Gagasan agar para guru dan orangtua mendidik anak-anaknya supaya suka membaca. Soalnya, bagaimana meningkatkan kegemaran membaca di kalangan anak-anak sejak usia dini. Ajip sering berkeliling ke sekolah-sekolah dasar maupun menengah di Ibu Kota maupun di luar Jakarta. Dia berkeliling untuk memberikan ceramah-ceramah tentang pentingnya siswa banyak membaca dan pentingnya sekolah memiliki perpustakaan.

Hasilnya segera tampak! Pembaca merespons. Dalam katalog daftar buku tahun 1984, tercatat Pustaka Jaya waktu itu telah menerbitkan lebih dari 600 judul buku dengan lebih dari 10 juta eksemplar. Itu artinya, hampir setiap minggu ada buku baru yang diterbitkan oleh Pustaka Jaya. Dan dari jumlah 10 juta eksemplar itu, lebih dari sembilan juta terserap oleh perpustakaan-perpustakaan sekolah dan perpustakaan umum.

Nasib Pustaka Jaya Kini
Pustaka Jaya kini perlu diselamatkan! Kekeliruan kebijakan dan salah urus di era 1990-an membawanya ke tepi jurang. “Kami anfal tahun 90-an.” Kerjanya hanya mencetak ulang buku-buku lama untuk bertahan hidup. Pembenahan dilakukan dengan memperbaiki sistem. Tapi masih ada yang kurang.

Jika penerbit lain telah memiliki website dan memanfaatkan media online untuk memasarkan buku-buku mereka, tidak demikian halanya Pustaka Jaya. Menurut manajernya, Ahmad Rivai, dunia maya atau website baru berupa angan-angan, belum merupakan prioritas. Ia menyebut krisis keuangan yang dialami Pustaka Jaya dahulu cukup parah. “Ibaratnya, sakit yang kami alami telah memasuki stadium dua. Sehingga sampai sekarang Pustaka Jaya masih dalam tahap pemulihan supaya bisa kembali menjadi perusahaan yang sehat,” kata Rivai.

Maka dari itu mengharapkan Pustaka Jaya kembali sehat membutuhkan uluran tangan pembaca, terutama para pembaca setia yang dulu menikmati booming buku sastra bermutu dari Pustaka Jaya! Mari selamatkan Pustaka Jaya bersama-sama.

Sumber penulisan:
1. Seluruhnya berasal dari artikel “Pustaka Jaya: Masih di Jalur Bahasa/Sastra” karya Sahala Napitupulu, majalah TAPIAN edisi Maret 2009
2. Pertemuan Amat Semangat dengan Ahmad Rivai, 4 Oktober 2011

Katalog Buku yang Ditarik dari Toko Buku:
01. Mahabarata
02. Ramayana
03. Hidup Tanpa Ijazah
04. Prajurit Schweik
05. Anak Tanah Air
06. Masyitoh
07. Puisi Indonesia Modern
08. Kiai Haman Dja’far dan Pondok Pabelan
09. Si Kabayan
10. Catatan dari Bawah Tanah
11. Rumah Tangga yang Bahagia
12. Munculnya Elit Modern Indonesia
13. Dataran Tortilla
14. Haji Murat
15. Tiga Pesona Sunda Kuna
16. Cinta Pertama
17. Romeo dan Julia
18. Oidipus Sang Raja
19. Rubaiyat Umar Khayyam
20. Korupsi dan Kebudayaan
21. Orang dan Bambu Jepang


Silakan lihat di: http://demipustakajaya.wordpress.com untuk mendapat info terkini termasuk melakukan pemesanan online buku-buku Pustaka Jaya.