Terobosan New Media

Upaya mencari solusi untuk menumbuhkan harapan perbaikan perbukuan di Indonesia.

Upaya Memahami Pembaca

Komunikasi antara penerbit dan pembaca perlu dibangun lebih erat dengan pendekatan-pendekatan yang sifatnya strategis perlu dibangun, kalau memang ada keinginan untuk menciptakan iklim yang lebih baik.

Menyikapi Pembakaran Buku

Belum genap dua tahun kita bebas dari rezim pelarangan buku lewat tangan Kejagung, akhirnya kita harus alami kembali peristiwa pelarangan dan pembakaran buku.

Ikhtiar Bersama Demi Amanat Pak Raden

Gilang-gemilang ingatan orang akan sosok Pak Raden dan sukses besar Si Unyil bertahan sebagai warisan budaya visual ternyata tak disertai dengan kesejahteraan bagi penciptanya. Ini adalah ikhtiar yang diupayakan untuk mengembalikan haknya.

Tampilkan postingan dengan label 2012. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2012. Tampilkan semua postingan

Di Balik Publikasi: Ketika Buku Lahir dan Membuatnya Mulai Dibicarakan

Saya masih belum paham betul mengapa novel “Partikel” (Dewi Lestari) dan “Sunshine Becomes You” (Ilana Tan) saat terbit begitu mudah menjadi pembicaraan orang. Bisa jadi karena sosok Dewi Lestari, penulisnya, yang mempunyai reputasi cukup besar sebagai bintang. Sebelum menjadi penulis, nama Dewi Lestari dikenal luas sebagai anggota trio RSD (Rita-Sitta-Dewi). Bisa jadi juga karena banyak penggemar Supernova, novel pertamanya yang sejak lama memiliki penggemar fanatik. Saya termasuk salah satu yang pernah ikut (tidak aktif sebetulnya) dalam wadah mailing-list Truedee, dulu. Tapi bagaimana menjelaskan Ilana Tan, ini kan sosok penulisnya saja tidak kita ketahui.

Namun faktanya demikian: dua buku itu lahir dan kehadirannya langsung meraih perhatian pembaca. Bisa jadi banyak faktor di luar yang tadi disebutkan yang memicu/mendorongnya. Apapun itu, saya salut pada tim publikasi kedua buku tersebut, entah dari penerbit atau dari penulisnya sendiri. Dari pengalaman saya memegang publikasi film dan buku, jelas buku lebih menantang daripada film. Film dipermudah oleh industrinya. Durasinya yang pendek, waktu tayang tertentu (paling cepat seminggu), dan tempat pemutaran yang pasti. Sedangkan buku, derajat kesulitannya bisa jadi 4x sampai 7x lebih tinggi. Harus pintar-pintar mengolah isu.

Maka ketika novel “Pulang” akhirnya lahir dari Leila S. Chudori dan saya termasuk yang melihat proses kelahirannya, tantangannya yang segera muncul adalah bagaimana membuatnya mulai dibicarakan. Meletakkannya begitu saja di toko buku sama saja seperti menelantarkan anak rahim penulisnya di penitipan anak. Saya hanya punya strategi komunikasi untuk membuatnya bisa dibicarakan.

Enter first before it’s too late!

Peluang muncul saat ada penyelenggaraan FESTIVAL PEMBACA INDONESIA, even tahunan para pembaca yang diadakan oleh komunitas Goodreads Indonesia pada 9 Desember 2012. Maka strategi publikasinya adalah lekas masuk ke pembaca, bahkan sebelum buku beredar luas di toko buku merupakan jalan yang saya tempuh. Memberi bocoran/sneak peak lewat social media dan membuka lebar kesempatan bagi pembaca untuk bisa membaca lebih dulu di acara festival tersebut daripada membeli di toko buku adalah cara yang lebih ampuh untuk mengkondisikan pembicaraan. Apalagi festival ini diadakan satu hari sebelum novel Pulang didistribusikan di toko buku.


Meet & Greet Leila S. Chudori di Festival Pembaca Indonesia
Strategi itu kemudian diteruskan dengan diadakannya peluncuran novel ini secara terbatas tanggal 12 Desember 2012. Tapi itu bukan masalah, karena persoalan menghadirkan kegiatan acara itu bisa dilakukan dengan reportase langsung lewat Alinea TV – TV Buku #1 di Indonesia dan tentu saja liputan-liputan nasional dari media-media besar yang datang ke peluncuran. Maka tahap awal menumbuhkan awareness pada novel terbaru Leila S. Chudori ini sudah berada di tahap cukup memadai.

Mulai dibicarakan dan membesar

Hasil penghitungan lewat social media monitoring cukup membantu memberi gambaran bagaimana novel Pulang ini mulai dibicarakan. Jelasnya seperti ini:

Statistik Tweetreach.com atas #PulangLSC di Twitter


Di Twitter, tagar #PulangLSC menjangkau 371.916 akun Twitter dan terekspos ke 445.034 pengguna. Tentu saja karena ada beberapa faktor seperti sokongan dari penerbit, teman penulis, komunitas.

Sedangkan Facebook:

Jumlah People Talking This naik 209%


Jumlah likes naik menjadi 112 (+19.15%) orang dan yang penting mulai dibicarakan dengan signifikan kenaikan 209.09% (34 orang).

Jangan dibandingkan dulu dengan dua novel fiksi yang tadi saya sebut lebih awal, tapi boleh dikatakan novel ini berhak untuk dibicarakan sedahsyat dan seramai itu.

Di Balik Publikasi: Menjadi Publisis Novel Terbaru Leila S. Chudori

Pembicaraan menjadi “publisis buku” sudah sering terlontar ke Penerbit KPG dan juga penulis Leila S. Chudori saat kami bertemu, tapi tak pernah terpikirkan bahwa satu kali akan menjadi publisis mereka. Salah satu sebab, rintisan upaya yang baru berjalan setahun lebih ini terus-menerus mencari formulasi yang tepat untuk bisa mempercepat bertemunya karya buku yang baik dengan publik pembacanya. Sebab lain, karena memang selama ini hubungan yang terjadi adalah pembicaraan hangat sambil makan siang di bilangan Palmerah atau SCBD.

Kesempatan sempat muncul beberapa kali dari Penerbit KPG untuk buku non-fiksi mereka, tetapi baru kali ini betul-betul terlibat untuk merencanakan kegiatan publikasi untuk “Pulang” karya novel terbaru Leila S. Chudori, senior editor Tempo dan penulis perempuan yang matang dalam bercerita, baik lisan maupun tulisan.


Ketika Leila S. Chudori menelpon dan menceritakan apa sebetulnya isi novel terbarunya ini, saya langsung “membeli”, maksudnya percaya betul premis cerita kuat dan kalau digarap dengan rapi, novel ini akan disukai oleh pembaca. Kerja besar ini melibatkan banyak orang yang harus dihubungi, selain editor, social media specialist, tapi sekali lagi bertemu dengan Wisnu Darmawan, manajer Dian Sastrowardoyo yang juga telah terlibat dalam launching buku Leila S. Chudori sebelumnya.


Rencana komunikasi telah disiapkan dan disetujui kemarin oleh Penerbit KPG dan Leila S. Chudori. Print out novel terbaru ini pun sudah diterima. Tinggal melaksanakan sebaik-baiknya kepercayaan besar yang sudah diberikan. Mohon dukungan dari teman, sahabat, dan jaringan komunitas buku agar rencana komunikasi ini berjalan lancar.

Pulang
karya Leila S. Chudori
ISBN: 9789799105158
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)

Di Balik Publikasi: Menangani Kampanye Social Media Film “Jakarta Hati”



Tantangan ini datang sewaktu kami membuka booth #Twitteriak di Social Media Festival 2012, 12-14 Oktober 2012 lalu. Di tengah panasnya venue di area parkiran Gelanggang Renang Senayan, Lavesh Samtani dari 13 Entertainment masuk ke booth #Twitteriak dan bertanya soal mekanisme kerja #Twitteriak. Setelah dijelaskan secara detil, lalu Lavesh mengajukan tantangan yang membuat kami tertegun: berani tidak menggunakan #Twitteriak untuk mengangkat film baru karya Salman Aristo berjudul “Jakarta Hati” lalu ia tinggalkan kartu namanya.


Kira-kira dua hari sebelumnya, kami baru saja melihat trailer “Jakarta Hati” ditayangkan di channel Youtube dan belum sebulan dari tawaran untuk melihat rough editing di Wahana Penulis, jadi film dan potensi “Jakarta Hati” memang sudah langsung terbayang. Mengangkatnya ke New Media seperti #Twitteriak justru hal yang luar biasa, apalagi tantangan dari Lavesh jelas, menciptakan engagement kepada masyarakat lewat media sosial. Tantangan besar sekali, apalagi belakangan ternyata semua komunikasi hanya memanfaatkan apa yang tersedia di social media: Youtube, Twitter, Facebook.

Ternyata Lavesh cukup serius menawarkan hal tersebut dan sejak 1 November 2012, sebuah rencana kampanye social media dirumuskan. Obrolan #Twitteriak dimasukkan dalam rencana tersebut dengan meleburkan ke dalam platform yang sudah ada. Malah, kali ini diterapkan #Twitteriak LIVE untuk publik yang uji cobanya sudah berhasil dilaksanakan dalam Social Media Festival 2012.

Tampilan #Twitteriak LIVE dari Facebook Jakarta Hati


Engage, Educate, and Entertain
Berbekal pengalaman mengelola kampanye film “Lewat Djam Malam” yang hanya secuil itu, mempersiapkan kampanye “Jakarta Hati” dengan target-target engagement di atas angka rata-rata #Twitteriak jelas suatu tantangan tersendiri. Angka engangement yang ditandai dengan reach and exposure (jangkauan dan paparan) hingga 3-9 jutaan orang jelas membuat otak ini tak berhenti bekerja. Harus ada sesuatu yang baru setiap hari untuk meningkatkan engagement dan juga menghibur (entertain), juga memahami key contact yang perlu dijaga.

Beruntung Lavesh yang sudah lebih dulu matang dalam industri film memberi sejumlah petunjuk yang bisa dikerjakan. Bagaimana menggarap masing-masing key contact hingga film “Jakarta Hati” ini sudah ramai dibicarakan orang (bukan dibuat-buat untuk dibicarakan). Semua yang berlangsung di Twitter generik tercipta karena ada obrolan yang menarik seputar film “Jakarta Hati”. Khusus Facebook, memang ternyata jauh lebih berdampak bila ikut serta dalam program Facebook Advertisement, tapi pasca 1 November, semua yang terjadi di social media generik tercipta dari impuls yang didorong lewat Twitter dan Facebook “Jakarta Hati”.

Untuk soal edukasi, teman-teman blogger film merupakan pihak yang paling aktif menyuarakan pendapat jujurnya akan film “Jakarta Hati” dan memberi persepsi penting bahwa film ini jauh lebih baik ditonton daripada film-film hantu gentayangan yang masih saja ada di layar bioskop kita. Untuk kedua kali, kami bekerja sama dengan blogger film untuk menyuarakan pentingnya mendukung film Indonesia yang bermutu.

Ramai Peminat di Social Media, Sepi Peminat di Bioskop?
Meskipun mempersiapkan kampanye untuk sebulan penuh, ternyata film “Jakarta Hati” mendapat tantangan besar dengan posisinya di antara film “Skyfall” awal November dan “Breaking Dawn 2″ pertengahan November, yang berujung pada berhenti totalnya penayangan film “Jakarta Hati” di minggu kedua setelah rilis resminya. Jumlah penonton tercatat 28.106 peminat, angka yang berbeda jauh dari pencapaian paparan di social media yang setiap harinya memiliki engangement antara 500.000-3.000.000 akun Twitter dan setiap hari lebih dari 9.000 Facebookers membicarakannya.

Hingga 9.000 facebookers membicarakannya
Angka jangkauan dan paparan #JakartaHati

Lavesh sempat mengatakan di awal perencanaan social media akan kemungkinan hal ini terjadi, tidak ada jaminan bahwa sebuah hal yang ramai dibicarakan di social media akan berdampak langsung pada penjualan tiket film. Terus terang, kami masih mencoba menemukan di mana titik yang menyebabkan perbedaan yang jauh ini terjadi, sehingga bisa dijadikan pembelajaran di kampanye social media berikutnya.

Analisa dan evaluasi
Dari sudut pandang komunikasi, menggarap kampanye film jauh lebih ringan daripada menggarap kampanye buku karena infrastruktur industri medianya masih cukup memadai. Ada infotainment, ada majalah, rubrik koran, blogger, buzzer, yang semuanya penting untuk menyalakan “api” engangement yang diperlukan. Meskipun jauh lebih ringan, tantangan terbesar menggarap kampanye social media untuk film adalah iklim industrinya yang tengah “mendung”.

Angka penonton di atas 300.000 untuk sebuah film nasional itu merupakan angka tertinggi yang bisa diraih dalam 2 tahun terakhir ini, padahal sebelumnya bisa mencapai di atas 1.000.000 penonton. Dari tulisan Totot Indrarto mengenai kematian bioskop lokal, inilah yang menjadi penyebab terpangkasnya jumlah penonton di bioskop belakangan ini. Maka sebetulnya, perolehan jumlah penonton “Jakarta Hati” di angka 28.106 orang adalah hal yang pantas disyukuri. Bagaimanapun itulah bentuk konkrit dukungan penonton bagi film Indonesia. Meski tentu saja bagi kami tidak memuaskan. Semoga di kemudian hari, kami menemukan formula komunikasi yang lebih tepat.

[*]

Setahun Menanam Ide Lewat Kata-kata

Hidup adalah serangkaian keputusan. Keputusan demi keputusan yang diambil itulah yang membentuk perjalanan hidup. Demikian juga keputusan kami saat mendirikan Tanam Ide Kreasi sebagai publisis dan kemudian menjadi New Media Publisher setahun lalu. Ini adalah sebuah keputusan revolusioner.
Mulai menanam kata sejak 1 Oktober 2011
SETAHUN lalu, selepas menyelesaikan tanggungjawab sebagai moderator komunitas pembaca aktif Goodreads Indonesia 2007-2010 kami membuat keputusan revolusioner, atau paling tidak bisa dikatakan nekat. Setelah melihat problem perbukuan pada penerbit dan penulis, serta semakin lemahnya dukungan media pada dunia membaca dan menulis, bulat tekad kami menjadi publisis/konsultan publikasi.

Tugas publisis adalah merancang berbagai kebutuhan bagi tersiarnya keberadaan sebuah buku/seorang penulis dan dalam hal ini melakukan percepatan pertemuan dengan pembacanya lewat sejumlah kegiatan. Yang dipersiapkan tak cuma kegiatan book signing dan foto session, tetapi juga launching buku, temu penulis, mempersiapkan siaran di radio hingga ke televisi. Namun tugas utamanya adalah mengupayakan respon dari para pembaca lewat alat bantu book release, review buku, dan liputan acara.

Mengapa penulis dan penerbitan membutuhkan publisis? Karena tugas ini meringankan beban yang sudah disandang penulis dan penerbit, dan dengan menggunakan publisis, proses pertemuan dengan para pembaca -- termasuk membangun komunitas pembacanya -- dapat dipercepat dengan rancangan strategis.

Selama setahun ini sudah 5 klien yang menjadi mitra/partner mulai dari penulis buku motivasi, LSM kesehatan, penulis novel, hingga gerakan orang muda untuk perubahan, masing-masing mempercayakan pengembangan komunikasi agar semakin dikenal masyarakat lewat rancangan strategis publikasi. Selama menjadi publisis itulah, dirasakan perlunya menambahkan kekuatan media untuk mendekatkan diri ke publik. Yang paling bisa dijangkau dan mudah diterima adalah kehadiran New Media. Itulah yang melandasi lahirnya layanan New Media Publisher di job description kami.

Sebagai penerbit New Media, diciptakan obrolan seru #Twitteriak mulai 3 November 2011 untuk membantu berteriak di social media. Kehadiran #Twitteriak setiap episode rata-rata diikuti oleh 60.445 orang dan rata-rata paparannya tersebar hingga menghasilan 261.379 kesan. Selain itu, kami ciptakan juga AlineaTV dan Alinea Kata sebagai New Media yang berfungsi sebagai newsroom bagi dunia membaca dan menulis di Indonesia. Mengusung ide sebagai perintis TV Buku di Indonesia, menjadi New Media Alinea (TV & Online Magz) tumbuh pesat dengan pengunjung lebih dari 15.000 orang hingga hari ini.

Di luar kegiatan tersebut, Tanam Ide Kreasi juga terlibat dalam sejumlah kampanye -- "literary act" -- mulai dari kampanye untuk Pustaka Jaya (#SavePustakaJaya), hari jadi Pramoedya Ananta Toer (#PramsDay), kepedulian pada Pak Raden (#PakRadenNgamen), keprihatinan pada buku anak (#BukuAnakLokal), pernyataan terbuka atas pembakaran buku (#StopBakarBuku), hingga penyelamatan film klasik Indonesia (#LewatDjamMalam).

Beberapa kegiatan menanam masih dalam proses penyemaian benih. Semoga tahun depan, tumbuh menjadi tanaman yang kuat dan sudah menghasilkan buah berlimpah. Setahun ini mengajarkan bahwa ide baik selalu mendapat dukungan banyak orang dan tak boleh menyia-nyiakan kepercayaan dan dukungan banyak orang tersebut.

Terima kasih sudah mendukung dan ikut mendoakan kerja-kerja kami selama setahun terakhir ini. Juga terima kasih atas ucapan yang terus menerus disampaikan di hari lahir Tanam Ide Kreasi yang pertama ini.

[AS]

Peran Alinea Sebagai Roda Menanam Ide

Tahapan paling krusial setelah membangun Alinea sebagai New Media unggulan adalah menggulirkannya. Setelah pengembangan konsep Alinea TV dan Alinea Kata, pada 1 Agustus 2012 ini Tanam Ide Kreasi menetapkan Alinea sebagai New Media yang dipilih untuk berperan sebagai roda menanam ide-ide kreasi.

Catatan pendek dari perkembangan Alinea TV dan Alinea Kata adalah penerapan manajemen crowd-sourcing dalam pengelolaan konten-kontennya dan melibatkan sinergi yang besar dari banyak pihak.

Logo Baru, Wajah Baru

Untuk menandakan penetapan ini, dibuatkan logo baru untuk kedua produk Alinea: Alinea TV dan Alinea Kata. Logo ini menonjolkan huruf “A” yakni huruf pertama dari alfabet, aksara pertama yang diperkenalkan saat belajar membaca dan menulis.

Yang Muda, Yang Bersemangat

Manajemen crowd-sourcing mempertemukan generasi orang muda yang ingin terlibat untuk berkontribusi dalam Alinea TV dan Alinea Kata. Di Alinea TV ada Nilam Suri, Esti, dan Ninus Ardanuswari, sedang di Alinea Kata ada Azia Azmi, Helvry Sinaga, Hernadi Tanzil, Nilam Suri, dan Ninus Ardanuswari.

Usulan generasi muda untuk membuat tampilan Alinea TV dan Alinea Kata lebih bersemangat muda dilontarkan dalam beberapa kali proses brainstorming. Ada banyak referensi yang digunakan dan akhirnya diputuskan untuk menggunakan rujukan yang paling dekat dengan sasaran target penonton dan pembaca Alinea.

Semoga dengan perubahan logo dan suntingan semangat dari generasi muda, Alinea bisa berjalan untuk lebih jauh menanam ide ke masyarakat Indonesia.

Catatan Kampanye #StopBakarBuku

Latar Belakang
Kampanye ini muncul sebagai bentuk protes keras masyarakat atas tindakan pembakaran 216 eksemplar buku “5 Kota Paling Berpengaruh di Dunia” karya Douglas Wilson di halaman belakang Bentara Budaya, kompleks Gramedia, Jakarta pada hari Rabu, 13 Juni 2012 serta pembakaran buku yang sama di Cakung (Jawa Barat), Surabaya, Semarang, Makassar, dan Pekanbaru.
.
Tindakan
Surat Protes ini lahir setelah kejadian pembakaran buku dari inisiatif generasi muda (Ninus D. Andarnuswari, Damar Juniarto, Fahri Salam, Megi Margiyanto, Lisabona Rahman, dll.) untuk meminta masyarakat menolak tunduk pada teror pembungkaman berpendapat dan berekspresi demi Indonesia yang lebih baik, dengan menyerukan STOP BAKAR BUKU dan menyuarakan protes kepada Gramedia, MUI, FPI, dan POLRI yang membiarkan peristiwa pembakaran buku terjadi.
.

Di Balik Publikasi: Catatan Obrolan #Twitteriak Season 2


EPISODE 24 baru saja usai digelar dan ini menandakan Season 2 Obrolan #Twitteriak telah berakhir. Tiba giliran kami sebagai penyelenggara obrolan #Twitteriak mengadakan evaluasi Season 2 dan sekaligus memberi catatan pada apa yang telah dicapai sejauh ini.
Catatan ini dibagi 3 aspek: pembabakan, tamu, jangkauan.
Pembabakan
Pembabakan obrolan #Twitteriak dibagi atas Season yang terdiri dari 12 episode. Kalau setiap episode muncul berkala sekali setiap minggu, maka 1 Season selesai dalam waktu 3 bulan. Mengapa pembabakannya per Season? Karena setiap Season punya tema besar dan pilihan tamu sendiri.

Pernyataan Menyikapi Pelarangan dan Pembakaran Buku (#StopBakarBuku)

Peristiwa Pembakaran Buku 13 Juni 2012 Peristiwa Pembakaran Buku 13 Juni 2012 (dok. Media Indonesia)

Belum genap dua tahun kita bebas dari rezim pelarangan buku lewat tangan Kejagung, akhirnya kita harus alami kembali peristiwa pelarangan dan pembakaran buku.

Sejak Mahkamah Konstitusi mencabut PNPS No. 4 Tahun 1963 per tanggal 14 Oktober 2010, publik bersorak. Semua gembira. Tapi sayang gegap gembira ini tak berumur panjang karena kini pelarangan/pembakaran buku kembali dilakukan lewat institusi lain: ormas, lembaga dinas/instansi, penerbit, dll.

Baru saja kita saksikan peristiwa perpustakaan yang menarik buku-buku yang disinyalir radikal di Madura, instansi yang menyita buku-buku SD yang dicap porno, juga ormas yang menyerbu toko-toko buku. Terakhir kita juga lihat penerbit/toko buku Gramedia yang dianjurkan oleh Majelis Ulama Indonesia untuk membakar buku terbitannya sendiri pada hari Rabu, 13 Juni 2012 ini.

Bersikaplah! Apa mau kita alami represi pelarangan buku seperti dulu lagi? Saya tidak mau. Sekali kali tidak ingin terjadi lagi.

Saya menolak praktek pelarangan buku yang dilakukan perpustakaan atas buku-buku radikal di Madura karena itu tak berdasar. Buku-buku radikal bukanlah musuh, tetapi represi pikiran adalah musuh yang sesungguhnya.

Saya menolak tindakan instansi yang menarik buku dengan cap porno karena tidak membaca isi buku yang berbicara soal kesehatan reproduksi dan fiksi Islami yang indah.

Saya juga menolak represi yang dilakukan FPI atau organisasi lainnya dalam bentuk sweeping, penyitaan, pengancaman dll.

Saya menyayangkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang mengajukan ide pembakaran buku bermasalah kepada Gramedia sebagai solusi dari ancaman FPI.

Saya sesalkan Gramedia yang memilih mengikuti anjuran dari MUI tersebut dan kemudian memutuskan untuk membakar buku tersebut. Karena tindakan Gramedia membakar buku meskipun dianjurkan MUI dan atas desakan FPI, membuat situasi perbukuan kita mundur. Pikirkan dampaknya kepada penerbit-penerbit lain dan dampak nasional dari pemeliharaan tradisi pembakaran buku ini di kemudian hari.

Menjadi Narasumber Workshop Membaca Kritis

Pada pertengahan bulan Mei 2012, Rumah Perubahan kembali mengundang untuk menjadi narasumber Workshop Pelatihan Guru Membaca. Kali ini tema yang harus dibawakan adalah membaca kritis.

Critical Reading (Membaca Kritis) adalah topik yang menyenangkan untuk dibagikan, tetapi ternyata maha dahsyat untuk mencari bahan yang mudah dipahami dan yang paling penting relevan dengan para guru yang menghadiri workshop tersebut.

Dari pendekatan-pendekatan Membaca Kritis yang ada, dipilih teori bernama Bloom's Taxonomy (Taksonomi Bloom). Teori ini sangat bagus karena bisa menggambarkan proses psikologis dan perilaku pembaca sejak dari tahapan dasar hingga akhirnya yang tertinggi.



Pak Raden Ngamen Hak Cipta Si Unyil

Sebelum wafat, saya ingin pameran lukisan dan memperjuangkan hak cipta Unyil. Itu saja cukup. – Pak Raden, April 2012

Tanggal 14 April 2012 dipilih menjadi hari untuk melakukan kegiatan kampanye "Pak Raden Ngamen", sesuai keinginan Pak Raden agar dibuatkan 'panggung'. Semula diniatkan di TIM, tapi akhirnya karena izin dan biaya tidak ada, dibuatkan di rumahnya yang sempit di bilangan Petamburan.

Poster 'Pak Raden Ngamen', 14 April 2012

Di Balik Publikasi: Ikhtiar Bersama Demi Amanat Pak Raden

Kampanye #bukuanaklokal mempertemukan saya dengan kenyataan pahit salah satu penulis buku anak lokal bernama Drs. Suyadi. Ia adalah penulis beberapa buku dengan gaya bercerita yang khas, bermoral, dilengkapi dengan ilustrasi yang menawan. Goresan ilustrasinya bahkan mengisi masa kecil anak Indonesia yang hidup di tahun 70-80an karena jejaknya tertera di buku-buku teks sekolah.

4 dari 13 buku anak lokal yang ditulis oleh Drs. Suyadi

Orang mungkin acuh pada nama Drs. Suyadi, tetapi begitu ia mengganti namanya menjadi Pak Raden, maka gilang-gemilanglah ingatan orang akan dirinya. Pak Raden yang galak, arogan, dan pelit. Itulah karakter yang diciptakan Drs. Suyadi sebagai antitesis Si Unyil yang ramah, baik hati, dan pemurah. Gilang-gemilang ingatan orang itu dan sukses besar Si Unyil bertahan sebagai warisan budaya visual ternyata tak disertai dengan kesejahteraan bagi penciptanya.

Dengan kasat mata, saya segera tahu Pak Raden miskin. Tak berharta. Rumah yang ia tinggali merupakan rumah kakaknya. Bajunya lusuh, mungkin sudah lama tak beli baju baru. Ia melukis. Ia mengisi suara. Di usianya yang nyaris 80 tahun pada November 2012 nanti ia harus banting tulang mencari sesuap nasi.


Upaya Memahami Pembaca

Titik Terang dalam Memahami Pembaca

Memahami pembaca adalah upaya yang tidak gampang. Setiap kali kami bertandang ke para penerbit, mereka selalu mengeluhkan hal yang sama dengan kata-kata yang berinti hal yang sama: "Kami tidak paham apa yang dimaui pembaca!"

Sementara itu, setiap kali kami duduk bersama para pembaca, keluhan pembaca kepada penerbit kurang lebih sama, "Kenapa penerbit X tidak lagi buat buku bertema Y, padahal yang Y itu kami suka. Kalau ada lagi, kami mau beli." Lalu saat kami bertemu dengan penerbit untuk menyampaikan keluhan itu, penerbit menjawab, "Buku bertema Y tidak laku!" Apa yang sebenarnya terjadi?

Inilah potret paling nyata gambaran hubungan penerbit dan pembaca di Indonesia, paling tidak dalam kacamata kami. Komunikasi perlu dibangun lebih erat antara keduanya, pendekatan-pendekatan yang sifatnya strategis perlu dibangun, kalau memang ada keinginan untuk menciptakan iklim yang lebih baik.

Mati Suri #bukuanaklokal di Negeri Dongeng?


Seri tweet #bukuanaklokal mencuat karena ada kepedulian bersama dari pembaca untuk melongok kembali kuantitas dan kualitas buku anak lokal yang sekarang ini. Digulirkan sejak 9 Februari 2012 di ranah twitter, kemudian mendapat antusiasme cukup luas dari para pembaca buku, penulis, dan orang yang peduli pada masalah #bukuanaklokal.

Sebuah tulisan diturunkan di AlineaKata tentang persoalan buku anak. Isinya membandingkan kuantitas dan kualitas buku terjemahan dan buku anak lokal. Salinan tulisan ditulis ulang di twitter.


Jangkauan pembicaraan #bukuanaklokal semakin meluas dan menjangkau banyak orang. Sebanyak 79.929 dan meraup eksposur hingga 91.132 kesan. Terutama topik ini masif dilakukan di Hari Buku Anak Internasional (International Children's Book Day) pada 2 April 2012.

Hitungan Jangkuan dan Eksposur #bukuanaklokal

Terobosan New Media, Harapan Baru untuk Perbukuan Indonesia

New Media, New Hope for Indonesian Booklovers
Selagi masyarakat kita masih berdebat soal perlu tidaknya BBM naik, singgahlah ke toko-toko buku dan perhatikan ada kenaikan harga buku. Sepertinya fakta ini juga masih belum diperhatikan oleh para pembaca buku yang bergabung di komunitas-komunitas literasi yang ada. Semua masih terhenyak, harga BBM naik ataupun tidak, ternyata harga barang-barang pokok sudah keburu naik. Tetapi kalaupun mereka mendapati harga buku naik, apa yang bisa diperbuat selain menelannya bulat-bulat.

Buku mahal itu cerita lama. Penulis tidak sejahtera apalagi, itu berita basi. Seolah kenyataan-kenyataan yang berseliweran sehari-hari itu akhirnya dibiarkan begitu saja tanpa pernah benar-benar dicarikan solusi. Bagi pembaca kebanyakan (bukan Anda yang sejahtera dan tak kesulitan dengan uang) terutama yang berdomisili di luar Jakarta, atau bahkan luar pulau Jawa, kenaikan harga buku akan membuat buku sebagai sumber ilmu semakin sulit dijangkau. Prioritas mereka akan tertuju pada pemenuhan kebutuhan perut. Sedangkan untuk membeli buku yang harga psikologisnya sekarang berada di atas Rp 70.000 untuk buku dengan ketebalan 300 halaman barangkali hanya bisa dilakukan satu kali saja sebulan. Penerbit tidak mau pusing-pusing, selama masih ada orang yang membeli buku-buku seharga bandrol mereka itu. Sedang pemerintah akan cukup sibuk menyiapkan stigmatisasi yang berulangkali dikatakan: daya baca masyarakat rendah, tanpa pernah mencoba mencari akar permasalahannya dari buku yang semakin tidak ter-akses karena daya beli rendah, ketersediaan karena distribusi tidak merata, dan tidak ada infrastruktur yang mendukung (jalan, gedung perpustakaan, pajak, insentif dll).

Topik "Turunkan Harga Buku..." di Goodreads Indonesia

Tanggal 19 Juni 2008, para pembaca di komunitas pembaca aktif Goodreads Indonesia mencuatkan sebuah diskusi bertajuk: "Turunkan harga buku..." yang langsung mengundang banyak respon. Hingga hari ini, 4 tahun sesudahnya, obrolan itu masih kontekstual. Banyak orang urun rembuk, tapi TANPA SOLUSI. Benarkah tidak ada solusi untuk masalah ini?


Di Balik Publikasi: Kisah Perjalanan #Twitteriak Season 1

Obrolan #Twitteriak
SEJAK obrolan #Twitteriak dimulai 3 November 2011 lalu hingga hari ini, banyak orang memberi apresiasi kepada kami sebagai pengelola obrolan mingguan itu. Sebetulnya, hal ini perlu diluruskan. Karena apresiasi ini seharusnya dialamatkan pada semua yang terlibat pada proses penciptaan #Twitteriak hingga menjadi obrolan yang selalu dinantikan: Allah SWT, para penulis, penerjemah, editor, peresensi, penerbit, ilustrator, pendongeng, sutradara, para pembaca, para Tweereaks, dan lainnya.

Sejatinya #Twitteriak hanyalah "wadah" yang diciptakan untuk membuat obrolan mengenai dunia penulisan dan membaca dapat menjadi alternatif selain obrolan politik, ekonomi, gosip, dan lain-lain. Sesekali di ranah twitter tersedia ruang bagi mereka yang punya banyak gagasan itu untuk berbagi, untuk mengungkapkan isi pikirannya. Juga sekaligus memberi ruang bagi khalayak lebih luas untuk bertanya kepada yang membagi, menggali manfaat yang bisa digunakannya sendiri kelak suatu hari nanti.

Belajar dari Banyak Orang, Belajar dari Kesalahan
Sebagai "wadah", obrolan #Twitteriak masih belia. Selama Season 1 ini, lebih banyak belajar dan uji coba. Belajar dari banyak orang. Belajar juga dari kesalahan. Salah satu pokok bahan belajar adalah program sejenis yang lebih dulu hadir: Twitalk.

Twitalk dikreasi oleh Pungkas Riandika (Salingsilang.com)

Twitalk merupakan program wawancara via Twitter kreasi Pungkas Riandika (@pungkas). Soal format, kami banyak belajar dari Twitalk ini. Yang membedakan, hanyalah topik dan tamunya. Kalau Twitalk lebih umum, di obrolan #Twitteriak lebih khusus: seputar buku, film, kondisi sosial dan sejarah dengan tujuan lebih spesifik lagi yakni publikasi. Perjumpaan dengan Twitalk ini terjadi karena kami ikut serta dalam Social Media Festival 2011 lalu dan melihat peluang, seandainya ada wadah khusus hanya untuk dunia menulis dan membaca. Dari sanalah, gagasan ini lahir.


#Twitteriak Eps. 12 bersama Daniel Mahendra (@penganyamkata)



SEJAK beberapa tahun belakangan ini, cerita-cerita perjalanan (travel writing) mulai marak di Indonesia. Satu persatu nama-nama para petualang, mulai yang menamakan dirinya backpacker, traveler, explorer bermunculan ke permukaan. Masing-masing memiliki kekhasan. Ada yang fokus bercerita tentang bagaimana cara mencapai tujuan tertentu, ada yang mengutamakan travelling dengan budget tertentu, ada yang filosofis mengisahkan perjalanannya dengan renungan dan refleksi yang kuat. Semua memberi warna pada ragam travel writing yang ada.

Benang merahnya ragam penulisan para travel writer itu adalah mereka melakukan perjalanan dan pada akhirnya menuliskannya. Ditulis keroyokan, ditulis sendirian dengan penuh canda, hingga dituliskan dalam dan berbobot. Jenis yang terakhir ini baru muncul belakangan hari dan jumlahnya tak banyak.

Itulah sebabnya, obrolan TWITTERIAK kali ini menghadirkan Daniel Mahendra, seorang travel writer yang baru saja merampungkan kisah perjalanannya ke China, Tibet, dan Nepal. Sebenarnya pria lajang kelahiran 1 Agustus 1975 ini, telah lama berkecimpung dalam dunia tulis menulis.

Di Balik Publikasi: Tahap Ketiga Video Adaptasi Fit For School




Bulan Maret ini, Tanam Ide Kreasi kembali mendapat kepercayaan dari klien kami, Savica Public Health Advisory and Communication Consultancy untuk mengerjakan tahap ketiga atau tahap akhir dari seluruh rangkaian video adaptasi Fit For School, organisasi kesehatan yang fokus pada penerapan Program Pelayanan Kesehatan Dasar (PPKD).

Video adaptasi ketiga berisi hal-hal apa saja yang menjadi pertimbangan saat membangun fasilitas kesehatan dasar. Video ini berdurasi hampir 10 menit dan melibatkan voice talents paling banyak. Seharusnya ada 12 suara yang perlu diadaptasi, tetapi untuk mempermudah proses pengerjaan, ditetapkan 6 pengisi suara untuk mengerjakannya.


#Twitteriak Eps. 11 bersama @okkymadasari



Okky Madasari, penulis kelahiran Magetan, 30 Oktober 1984 ini adalah lulusan Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Gajah Mada. Setelah lulus, ia mulai bekerja sebagai wartawan dan dari situlah ia mendalami dunia penulisan. Novel pertama yang dibuat oleh Okky berjudul Entrok. Novel ini berisi soal toleransi dan maraknya kesewenang-wenangan militer pada masa Orde Baru. Setelah itu, ia pun membuat novel kedua berjudul 86 yang isinya membicarakan praktik korupsi di negeri ini, terutama yang ia lihat langsung di lapangan. 86 masuk dalam lima besar penghargaan sastra Khatulistiwa Literary Award 2011.

Saat ini, novel ketiganya yang berjudul Maryam baru saja terbit. Nah, masalah sosial apa yang kini diangkatnya? Obrolan #TWITTERIAK kali ini bersama Okky Madasari akan mengupas banyak soal perempuan, hak warganegara, dan proses kreatifnya dalam menulis.

#Twitteriak: Selamat atas terbitnya novel Maryam ya. Bisa cerita sedikit saja latar belakang novel ini?
Okky Madasari: Makasih. Novel Maryam lahir dari keprihatinan atas kekerasan berkedok agama pada kaum minoritas belakangan ini.

#Twitteriak: Novel Entrok, 86, dan Maryam seperti mempunyai benang merah. Semuanya berkisar tentang perempuan dan pemenuhan hak dasar berpolitik. Benarkah begitu?
Okky Madasari: Sebenarnya novel-novel saya tidak hanya bicara soal perempuan, hanya kebetulan tokohnya perempuan. Benang merah novel-novel saya adalah bicara tentang manusia dan perjuangan hak-hak dasar kemanusiaan.

#Twitteriak Eps. 10 bersama @Zeventina (Zeventina Octaviani)

Zeventina Octaviani (@Zeventina)

PENULIS ini menamakan proses kreatifnya dengan “menulis dengan hati”. Barangkali ini teknik menulis yang jarang terdengar dalam buku teks pelajaran sastra. Inilah penamaan proses kreatif yang dilakukan oleh penulis yang lahir di luar rahim kesusastraan. Sebuah cetusan. Sebuah pernyataan bahwa karya sastra baik tidaklah selalu harus lahir dari rahim kesusastraan, ia bisa lahir dari mana saja. Sebagaimana ide menulis, bisa lahir dari mana. Penulis mengaku ia tinggal mengunduhnya dari alam.

Zeventina Octaviani telah menulis novel sejak 2009, karya debutnya “Elle Eleanor” berkolaborasi dengan Fery ZanZad langsung menjadi nominator di Khatulistiwa Literary Award di tahun yang sama. Sehari-hari bekerja sebagai web designer (IT), tidak mengendurkan niat Zeventina untuk terus menulis. Pada akhir tahun 2011, Zeventina kembali menulis novel. Kali ini ditulis sendiri dan diberi judul Nyai Duesseldorf, diterbitkan oleh Penerbit Imania.


Di Balik Publikasi: Perubahan Logo dan Tampilan Alinea Kata

Sesuai janji kemarin, Majalah Baca Online ALINEA KATA diperbaiki logo dan tampilannya. Logo baru ini dipilih agar memperkuat posisi ALINEA KATA sebagai majalah online. Tampilan dibuat sesederhana mungkin dengan kesan kuat online dengan menghadirkan mouse.

Logo baru ALINEA KATA
Sentuhan sedikit juga diberikan di tampilan keseluruhan ALINEA KATA dengan perbaikan pada background image dan pembagian slot rubrik.

Screenshot ALINEA KATA

Semoga perbaikan ini bisa diterima oleh publik.

Untuk melihat langsung perubahannya, silakan berkunjung ke: