Menjadi Narasumber Workshop Untuk Guru-Guru Sekolah

Tanggal 15 Februari 2012, kami dari Scriptozoid! diundang oleh Ilma untuk mengisi Pelatihan Guru-Guru Sekolah yang diadakan oleh Rumah Perubahan. Rumah Perubahan dimotori oleh Rhenald Kasali dan tujuan Rumah Perubahan didirikan adalah untuk menggerakkan perubahan bagi negeri ini. Cita-cita Rumah Perubahan adalah menjadikan Indonesia yang lebih baik melalui misi perubahan. Rumah Perubahan berperan sebagai katalisator, pusat jejaring, dan penggerak untuk memberikan kemajuan. Tentu saja tawaran ini tidak ditolak, karena sesuai dengan visi dan misi perubahan yang juga kami miliki.

Foto bersama Ilma (Rumah Perubahan) di auditorium Santa Ursula BSD Tangerang

Pada TOR, panitia meminta kami memberi pemahaman dan pelatihan kepada guru-guru sekolah mengenai Kelompok Membaca. Ini sesuai dengan kapasitas kami yang sudah berpengalaman mengelola klub dan komunitas pembaca. Tugas ini tidak mudah, karena berarti harus mampu memotivasi para guru di sekolah ini untuk memahami esensi mengapa perlu mengubah kondisi mereka sekarang dan mulai membentuk kelompok pembaca.


Sebuah artikel pembuka disusun oleh kami sebelum pelaksanaan workshop. Isinya demikian:

"Buku. Sejarahnya merentang jauh. Tidak sebatas pada penciptaan kertas dari bahan papirus yang terjadi 2400 SM di Mesir Kuno, tetapi lebih tua lagi. Lebih tepatnya ketika masyarakat manusia mengubah tradisi lisan menjadi tulisan. Tulisan ini bisa terdapat pada lempengan batu seperti terjadi di peradaban Sumeria, kulit binatang seperti yang banyak terjadi di Asia Tengah, lembaran daun, kain sutra, hingga pada kertas mulai dari berbahan papirus, bambu, ganja, hingga pinus, serta sekarang ini buku telah melampaui batasan-batasan yang kita tak kenal sebelumnya: buku digital.

Apa yang terjadi ketika manusia mengubah tradisi lisan menjadi tulisan? Sebuah revolusi! Sebuah sejarah telah dimulai. Pikiran-pikiran manusia mulai tercatat dan terdokumentasikan. Ketika si pemilik pikiran meninggal, pikiran-pikirannya dengan luar biasa tetap hidup. Inilah esensi dari kehadiran buku.

Bahkan Roland Barthes, seorang filsuf dan kritikus sastra dari Perancis, berkata ketika sebuah pikiran telah dituangkan ke dalam buku, maka yang terjadi kemudian penulisnya telah mati. Kematian sang penulis, menurut Roland Barthes, selalu diikuti dengan kelahiran pembaca. Hal ini berarti saat karya telah dituangkan dalam buku, buku itu memiliki kehidupannya sendiri di tangan pembaca. Buku itu tidak lagi terbelenggu dengan tirani penulis. Pada saat membaca suatu karya, dia bebas terbang ke mana saja, menembus dinding tebal gagasan penulis, serta melampaui ‘kejeniusan’ penulis itu sendiri. Dengan kata lain, matinya penulis diikuti dengan kebangkitan pembaca untuk berpartisipasi menghasilkan pluralitas makna dalam teks.

Sejarah sudah mencatat ada banyak buku yang ketika selesai ditulis oleh penulisnya, ia hidup dan bahkan mampu mengubah wajah dunia. Pertanyaannya adalah mengapa buku-buku ini dikatakan mengubah dunia? Sesimpel karena ada pembaca yang berdialektika dengan apa yang ada di dalam buku tersebut. Proses dialogis antara pembaca dan buku yang dibacanya sesungguhnya yang menghasilkan perubahan pada wajah dunia. Maka ukuran kekuatan buku sebenar-benarnya adalah bukan sebanyak apa suatu buku terjual melainkan seberapa besar buku tersebut mampu menghadirkan “dialog” dengan pembaca-pembacanya.

Maka pokok perhatian kini beralih ke sosok pembaca. Ketika kita berbicara mengenai pembaca, maka tidak ada definisi demografik, psikografik, maupun studi lain yang dapat mengelompokkannya. Siapapun yang dapat membaca aksara, maka dia dapat disebut pembaca. Satu-satunya pembeda yang dapat diajukan adalah mengelompokkan para pembaca ini ke dalam kelompok besar pembaca pasif dan pembaca aktif.

Apakah definisi pembaca aktif? Yang dimaksud dengan aktif adalah mampu melakukan proses dialogis dengan bacaannya dan yang terpenting adalah mau berbagi. Kata kunci lainnya adalah berorganisasi/berkelompok dan berbuat.

Proses dialogis dapat dicapai dengan mempelajari cara membaca yang efektif, setingkat lebih tinggi dari kemampuan membaca biasa. Sedangkan aspek mau berbagi adalah kata kunci dari definisi aktif yang sesungguhnya, yakni kemampuan mereproduksi kembali hasil bacaan menjadi sebuah kalimat kerja yang mengubah dunia. Proses mereproduksi kembali hasil pembacaan adalah langkah awal dari pembaca aktif untuk menjadi pelaku perubahan di tingkat individual, lingkungan, masyarakat, hingga dunia. Jadi siapapun Anda, apapun latar belakang Anda, dapat menjadi pembaca aktif tanpa kecuali."

Artikel pendek itu ditulis untuk memberi ringkasan dari apa yang telah kami sampaikan kepada 30 guru-guru sekolah tersebut. Hasilnya, menurut kami sangat menyenangkan. Para guru antusias membentuk kelompok pembaca dan paling penting, memahami betul bahwa tugas-tugas perubahan mampu dilakukan lewat kegiatan yang sangat sederhana: membaca.

Suasana Workshop Pelatihan Guru
Main Games Berhadiah Buku
Memperkenalkan Alinea TV
Foto bersama Ahmad Fuadi yang mengisi sesi di hari yang sama

Sehari setelah pemberian pelatihan, Scriptozoid! dikontak kembali untuk meneruskan memberikan pelatihan berikutnya, terkait dengan perpustakaan. Senang sekali mendapat kepercayaan ini.

0 comments:

Poskan Komentar