Terobosan New Media

Upaya mencari solusi untuk menumbuhkan harapan perbaikan perbukuan di Indonesia.

Upaya Memahami Pembaca

Komunikasi antara penerbit dan pembaca perlu dibangun lebih erat dengan pendekatan-pendekatan yang sifatnya strategis perlu dibangun, kalau memang ada keinginan untuk menciptakan iklim yang lebih baik.

Menyikapi Pembakaran Buku

Belum genap dua tahun kita bebas dari rezim pelarangan buku lewat tangan Kejagung, akhirnya kita harus alami kembali peristiwa pelarangan dan pembakaran buku.

Ikhtiar Bersama Demi Amanat Pak Raden

Gilang-gemilang ingatan orang akan sosok Pak Raden dan sukses besar Si Unyil bertahan sebagai warisan budaya visual ternyata tak disertai dengan kesejahteraan bagi penciptanya. Ini adalah ikhtiar yang diupayakan untuk mengembalikan haknya.

Tampilkan postingan dengan label New Media. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label New Media. Tampilkan semua postingan

Peran Alinea Sebagai Roda Menanam Ide

Tahapan paling krusial setelah membangun Alinea sebagai New Media unggulan adalah menggulirkannya. Setelah pengembangan konsep Alinea TV dan Alinea Kata, pada 1 Agustus 2012 ini Tanam Ide Kreasi menetapkan Alinea sebagai New Media yang dipilih untuk berperan sebagai roda menanam ide-ide kreasi.

Catatan pendek dari perkembangan Alinea TV dan Alinea Kata adalah penerapan manajemen crowd-sourcing dalam pengelolaan konten-kontennya dan melibatkan sinergi yang besar dari banyak pihak.

Logo Baru, Wajah Baru

Untuk menandakan penetapan ini, dibuatkan logo baru untuk kedua produk Alinea: Alinea TV dan Alinea Kata. Logo ini menonjolkan huruf “A” yakni huruf pertama dari alfabet, aksara pertama yang diperkenalkan saat belajar membaca dan menulis.

Yang Muda, Yang Bersemangat

Manajemen crowd-sourcing mempertemukan generasi orang muda yang ingin terlibat untuk berkontribusi dalam Alinea TV dan Alinea Kata. Di Alinea TV ada Nilam Suri, Esti, dan Ninus Ardanuswari, sedang di Alinea Kata ada Azia Azmi, Helvry Sinaga, Hernadi Tanzil, Nilam Suri, dan Ninus Ardanuswari.

Usulan generasi muda untuk membuat tampilan Alinea TV dan Alinea Kata lebih bersemangat muda dilontarkan dalam beberapa kali proses brainstorming. Ada banyak referensi yang digunakan dan akhirnya diputuskan untuk menggunakan rujukan yang paling dekat dengan sasaran target penonton dan pembaca Alinea.

Semoga dengan perubahan logo dan suntingan semangat dari generasi muda, Alinea bisa berjalan untuk lebih jauh menanam ide ke masyarakat Indonesia.

Di Balik Publikasi: Catatan Obrolan #Twitteriak Season 2


EPISODE 24 baru saja usai digelar dan ini menandakan Season 2 Obrolan #Twitteriak telah berakhir. Tiba giliran kami sebagai penyelenggara obrolan #Twitteriak mengadakan evaluasi Season 2 dan sekaligus memberi catatan pada apa yang telah dicapai sejauh ini.
Catatan ini dibagi 3 aspek: pembabakan, tamu, jangkauan.
Pembabakan
Pembabakan obrolan #Twitteriak dibagi atas Season yang terdiri dari 12 episode. Kalau setiap episode muncul berkala sekali setiap minggu, maka 1 Season selesai dalam waktu 3 bulan. Mengapa pembabakannya per Season? Karena setiap Season punya tema besar dan pilihan tamu sendiri.

Upaya Memahami Pembaca

Titik Terang dalam Memahami Pembaca

Memahami pembaca adalah upaya yang tidak gampang. Setiap kali kami bertandang ke para penerbit, mereka selalu mengeluhkan hal yang sama dengan kata-kata yang berinti hal yang sama: "Kami tidak paham apa yang dimaui pembaca!"

Sementara itu, setiap kali kami duduk bersama para pembaca, keluhan pembaca kepada penerbit kurang lebih sama, "Kenapa penerbit X tidak lagi buat buku bertema Y, padahal yang Y itu kami suka. Kalau ada lagi, kami mau beli." Lalu saat kami bertemu dengan penerbit untuk menyampaikan keluhan itu, penerbit menjawab, "Buku bertema Y tidak laku!" Apa yang sebenarnya terjadi?

Inilah potret paling nyata gambaran hubungan penerbit dan pembaca di Indonesia, paling tidak dalam kacamata kami. Komunikasi perlu dibangun lebih erat antara keduanya, pendekatan-pendekatan yang sifatnya strategis perlu dibangun, kalau memang ada keinginan untuk menciptakan iklim yang lebih baik.

Terobosan New Media, Harapan Baru untuk Perbukuan Indonesia

New Media, New Hope for Indonesian Booklovers
Selagi masyarakat kita masih berdebat soal perlu tidaknya BBM naik, singgahlah ke toko-toko buku dan perhatikan ada kenaikan harga buku. Sepertinya fakta ini juga masih belum diperhatikan oleh para pembaca buku yang bergabung di komunitas-komunitas literasi yang ada. Semua masih terhenyak, harga BBM naik ataupun tidak, ternyata harga barang-barang pokok sudah keburu naik. Tetapi kalaupun mereka mendapati harga buku naik, apa yang bisa diperbuat selain menelannya bulat-bulat.

Buku mahal itu cerita lama. Penulis tidak sejahtera apalagi, itu berita basi. Seolah kenyataan-kenyataan yang berseliweran sehari-hari itu akhirnya dibiarkan begitu saja tanpa pernah benar-benar dicarikan solusi. Bagi pembaca kebanyakan (bukan Anda yang sejahtera dan tak kesulitan dengan uang) terutama yang berdomisili di luar Jakarta, atau bahkan luar pulau Jawa, kenaikan harga buku akan membuat buku sebagai sumber ilmu semakin sulit dijangkau. Prioritas mereka akan tertuju pada pemenuhan kebutuhan perut. Sedangkan untuk membeli buku yang harga psikologisnya sekarang berada di atas Rp 70.000 untuk buku dengan ketebalan 300 halaman barangkali hanya bisa dilakukan satu kali saja sebulan. Penerbit tidak mau pusing-pusing, selama masih ada orang yang membeli buku-buku seharga bandrol mereka itu. Sedang pemerintah akan cukup sibuk menyiapkan stigmatisasi yang berulangkali dikatakan: daya baca masyarakat rendah, tanpa pernah mencoba mencari akar permasalahannya dari buku yang semakin tidak ter-akses karena daya beli rendah, ketersediaan karena distribusi tidak merata, dan tidak ada infrastruktur yang mendukung (jalan, gedung perpustakaan, pajak, insentif dll).

Topik "Turunkan Harga Buku..." di Goodreads Indonesia

Tanggal 19 Juni 2008, para pembaca di komunitas pembaca aktif Goodreads Indonesia mencuatkan sebuah diskusi bertajuk: "Turunkan harga buku..." yang langsung mengundang banyak respon. Hingga hari ini, 4 tahun sesudahnya, obrolan itu masih kontekstual. Banyak orang urun rembuk, tapi TANPA SOLUSI. Benarkah tidak ada solusi untuk masalah ini?