#Twitteriak Eps. 2 bersama @salmanaristo (Salman Aristo)

Akhir bulan Oktober 2011, Scriptozoid! mendapat kesempatan menonton screening film karya terbaru Salto Films di XXI Pondok Indah. Peluang yang langka untuk bisa hadir di screening film paling dinanti tahun ini: Sang Penari.

Mengapa Sang Penari istimewa? Pertama-tama karena ia diangkat dari trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, sebuah tonggak sastra yang penting, pembuktian diktum “ketika jurnalisme dibungkam, sastra bicara” yang pernah disebut-sebut Seno Gumira Ajidarma. Diktum itu ada benarnya, karena pada konteks karya ini terbit, Orde Baru di bawah Presiden Soeharto ‘rajin’ membredel pers dan memfilter berita apapun yang terkait dengan peristiwa ’65.

Ahmad Tohari menyebut apa yang terjadi di masa kecilnya itu, di tahun 1965 sebagai sebuah ‘prahara politik’ atau ‘turbulensi sejarah’. Sebuah peristiwa yang bila dilongok sekarang, terasa begitu jauh, tak terjamah. Namun dengan tinta penanya, Ahmad Tohari menghasilkan mahakarya trilogi Ronggeng Dukuh Paruk yang menggambarkan peristiwa ’65 dari sudut pandang masyarakat di dusun yang begitu kecil (dan tentu saja tidak nyata): Dukuh Paruk.


Hal kedua yang membuat Sang Penari istimewa adalah tim kreatif yang bekerja di balik pembuatan film tersebut adalah generasi muda yang sama-sama memiliki masalah ‘jarak’ atas peristiwa itu. Bukan saja dari segi waktu, tapi juga dari segi informasi. Sampai hari ini, apa yang disebut Peristiwa G30-S/PKI adalah peristiwa yang masih ‘gelap’ atau digelapkan oleh para penguasa.

Atas dasar itulah, TWITTERIAK menghubungi Salman Aristo untuk mau berbagi di obrolan tengah minggu produksi Scriptozoid! Salman Aristo adalah penulis skenario yang lahir di Jakarta, 13 April 1976. Pernah mendapatkan nominasi penulis skenario terbaik di Festival Film Indonesia tahun 2005 untuk Film “Brownies” dan tahun 2006 untuk Film “Jomblo”. Ditambah nominasi di Festival Forum Bandung buat Ayat-Ayat Cinta” dan “Laskar Pelangi” Serta mendapatkan International grand pada Jiffest Script Development Competition tahun 2006. Belakangan ia bergabung dengan Shanty Harmayn dalam Salto Films dan terus menorehkan karya film yang berkualitas.

Topik TWITTERIAK bersama @salmanaristo hari ini (10 November 2011) terkait film @SangPenari, novel Ronggeng Dukuh Paruk, dan soal menulis adaptasi. Semoga bermanfaat.

Scriptozoid: Hari ini semua orang bicara @SangPenari sebagai film terbaik tahun ini. Apa reaksi Aris?
Salman Aristo: Terima kasih. Tapi rasanya, tahun masih belum selesai. :)


Scriptozoid: Ide siapa memfilmkan novel Ronggeng Dukuh Paruk ini jadi Sang Penari? Apa tujuannya?
Salman Aristo:  Ide @ShantyHarmayn. Tujuannya: ini kisah cinta anak manusia yang sangat kaya dengan ketragisan sejarah.

Scriptozoid: Apa pendapat Aris tentang novel Ronggeng Dukuh Paruk? Apa yang membuatnya kontekstual untuk dibaca lagi?

Salman Aristo:  Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk itu milestone dalam sastra Indonesia. Konteksnya? Dia mengingatkan kita tidak lupa luka.

Scriptozoid: Novel Ronggeng Dukuh Paruk pernah gagal waktu diadaptasi ke film. Nggak takut gagal juga kah?
Salman Aristo:  Ah kalau takut terus, nggak ada kesempatan dialog yang terbuka dong. :)


Scriptozoid: Apa kesulitan terbesar saat mengadaptasi Ronggeng Dukuh Paruk ke medium film?
Salman Aristo:  Menentukan titik berdiri di antara lapisan literatur yang sangat kaya.


Scriptozoid: Eric Sasono bilang sejarah ’65 dikuak kembali di Sang Penari. Dimana posisi Aris dalam soal ini?
Salman Aristo:  Posisi gue adalah pencuplik dari sudut pandang rural. Sudut pandang orang-orang kecil.


Scriptozoid: Saat disebut terinspirasi, apa sebetulnya yang membedakan Sang Penari dengan Ronggeng Dukuh Paruk?
Salman Aristo:  Ada beberapa titik. Mulai dari fisik alam, umur Srintil, dan beberapa lainnya.


Scriptozoid: Sang Penari sangat provoking: sarat isu sospol, perempuan, dan idealis. Tapi jenis ini biasanya flop (gagal di pasaran) kan?
Salman Aristo:  Mari kita berdoa, Sang Penari tidak begitu. Biar ada benchmark baru.


Scriptozoid: Ahmad Tohari sampai menangis saat nonton film Sang Penari. Reaksi Aris?
Salman Aristo:  Tak terkatakan. Seperti gelisah yang bertemu rindunya.


Scriptozoid: Ada banyak adaptasi buku ke film yang sudah Aris buat. Apa yang paling Aris banggakan?
Salman Aristo:  Semuanya punya pencapaian sendiri. Tapi rasanya Sang Penari yang paling intens.

Scriptozoid: Saat bicara Sang Penari sebagai benchmark baru, apa sebetulnya yang salah dengan benchmark lama?
Salman Aristo:  Makin lama yang terasa, IMO, terjadi penggampangan dalam filmmaking.

Demikian obrolan TWITTERIAK bareng Salman Aristo. Sampai ketemu di program Scriptozoid! berikutnya. Terima kasih untuk mereka yang menyimak dari awal dan terima kasih tak terhingga untuk Aris.

0 comments:

Poskan Komentar