#Twitteriak Eps. 3 bersama @febyindirani (Feby Indirani)

TANPA JEDA menata hati dan pikiran. Itulah gambaran proses kreatif Feby Indirani, penulis dan sekaligus jurnalis kelahiran Jakarta, 15 Februari 1979. Mengaku prosesnya menjadi pencerita diawali dengan menulis diary/journal yang dilakoninya tanpa lelah sejak kecil, kini darinya telah lahir beragam judul buku dan lintas genre.

Sebut saja novel pertamanya Simfoni Bulan (Mediakita, 2006), lalu novel-novel adaptasi dari skenario film seperti Cewe Matrepolis dan Lantai 13, novel fiksi-musikal Gerimis, hingga non-fiksi berjudul I Can (Not) Hear (Gagasmedia, 2009) yang meraih sebagai pemenang buku favorit non-fiksi di Anugerah Pembaca Indonesia 2010. Tahun 2011 ini, Feby Indirani baru saja melahirkan karya terbaru Clara’s Medal, novel yang berkisah tentang 16 remaja yang mengikuti Olimpiade Fisika, yang disebut-sebut berkaitan dengan buku dan film seMesta menduKung dari Mizan Production.

Di sisi lain, Feby juga masih tercatat aktif sebagai jurnalis dan prestasinya di bidang jurnalistik mengundang decak kagum. Oleh karena itu, siang ini (17/11) Scriptozoid! mengajak Feby Indirani (@febyindirani) untuk ngobrol di TWITTERIAK seputar arti menulis, proses kreatif, dan tentu saja novel terbarunya: Clara’s Medal.


Scriptozoid: Di situs febyindirani.com ditulis bahwa Feby mengawali menulis dari kecil, dengan menulis diary. Apa arti menulis berarti bagi Feby?
Feby Indirani: Menulis itu menata hati dan pikiran, membuat hal-hal menjadi terang dan jelas, minimal buat saya sendiri.

Scriptozoid: Tulisan Feby begitu beragam: dulu chicklit, lalu ke non-fiksi, dan sekarang ke fiksi. Mana yang paling artikulatif buat Feby?
Feby Indirani: Saya gak yakin ngerti apa artikulatif yang dimaksud itu. Novel pertama yang saya tulis Simfoni Bulan, itu bukan chicklit. Tulisan saya beragam karena buat saya menulis adalah petualangan. Saya senang menjajal petualangan baru. Saya gak membatasi diri pada satu format tulisan. Saya adalah pencerita, kadang cerita saya fiksi, kadang non-fiksi.

Scriptozoid! lalu mempertegas bahwa yang dimaksud chicklit adalah novel Cewe Matrepolis, tetapi dijelaskan Feby itu termasuk genre adaptasi dari skenario film.

Scriptozoid: Tiap mau menulis, apa yang paling pertama Feby kerjakan/persiapkan?
Feby Indirani: Sebelum menulis, saya selalu mulai dari Outline. Ini membantu sistematisasi pikiran dan menstrukturkan pokok gagasan. Setelah outline, saya free writing tentang tema yang akan ditulis, menuangkan yang ingin saya sampaikan tentang tema itu. Setelah itu riset, riset, riset. Lalu mulai nulis deh.


Scriptozoid: Siapa yang Feby idolakan sebagai penulis dan mengapa?
Feby Indirani: Saya ini orang yang jarang punya idola. Saya belajar dari setiap penulis. Setiap orang adalah guru, setiap tempat adalah sekolah. Penulis favorit saya, antara lain Paulo Coelho (@paulocoelho), Goenawan Muhammad (@gm_gm), Sapardi Djoko Damono, Kamila Syamsie, Haruki Murakami, Jhumpa Lahiri. Saya juga senang Jostein Gaarder. Kenapa senang tulisan mereka, karena inspiring, memperkaya, dan puitis.


Scriptozoid: Kita tahu Feby punya dua profesi: jurnalis dan penulis. Mana yang utama sebetulnya dan mengapa?
Feby Indirani: Buat saya jurnalis & penulis itu saling dukung & saling memperkaya. Kayak punya anak kembar, ditanya lebih cinta yang mana? Biarlah saya sebut diri saya pencerita, sbg jurnalis ceritanya pasti non-fiksi, sebagai penulis bisa cerita fiksi :)


Scriptozoid: Sekarang terkait buku baru Feby: Clara’s Medal. Gimana ceritanya sampai nulis Clara’s Medal ini?
Feby Indirani: Ditawarin grup penerbit Mizan, karena ada teman yang rekomendasikan aku ke mereka, sama si teman ini belum pernah tatap muka.


Scriptozoid: Kenapa memilih setting Olimpiade Fisika yang notabene ‘nerdy’ dan tahu banyak tentang alur Olimpiade Fisika dari siapa? (pertanyaan dari @kunyita)
Feby Indirani: Sependek pengetahuan saya, tema Olimpiade Fisika jarang/belum pernah diangkat ke novel. Kalau baca Clara’s Medal, remaja yang terlibat di Olimpiade Fisika gak selalu nerdy, bisa seperti remaja lainnya juga. Tahu banyak tentang olimpiade Fisika dari riset, wawancara ke pembina, peserta/mantan peserta, membaca. Riset, riset, riset. :)


Scriptozoid: Karena diangkat dari kisah nyata, adakah kesulitan waktu menulis cerita Clara’s Medal ini?
Feby Indirani: Kesulitannya: membuat tema fisika jadi ngepop dan menulis dari perspektif pelajar SMA tapi tetap bisa dibaca semua usia. Padahal saya gak ngerti Fisika dan sudah lama gak merasakan jadi siswa SMA :)


Scriptozoid: Hahaha… betul. Feby pernah mengakui payah soal hitung-hitungan juga ya. Tapi gimana mengatasinya waktu menulis Clara’s Medal?
Feby Indirani: Betul. Saya payah banget hitung-hitungan. Fisika bukan pelajaran favorit saya. Waktu nulis Clara’s Medal jadi baca-baca buku Fisika. Dan beruntung, saya punya konsultan seorang fisikawan yang bersedia membaca dan kasih masukan ke naskah Clara’s Medal.


Scriptozoid: Apa pesan yang ingin disampaikan Clara’s Medal?
Feby Indirani: 1. Mencapai impian dan percaya seMesta menduKung. Sudah banyak yang mendengungkan, saya senang menjadi bagian darinya. Kerap dalam hidup, kita memang mesti melompat saja, percaya jaring-jaring pengaman siap menangkap kita. Kita tidak akan jatuh. Ketika kita bergerak, semesta juga bergerak. Ingat batu yang dilempar ke air pasti menimbulkan pusaran riak. Elemen semesta beresonansi dengan kehendak kita.

2. Mencapai kemenangan itu penting, tapi hidup tak hanya tentang menang-kalah, tak hanya soal medali Olimpiade. Alangkah berbahaya orang-orang yang hanya peduli tentang ‘menang’. Mereka bisa jadi orang-orang instan yang menghalalkan segala cara. Di Clara’s Medal, ada kemenangan yang lebih besar dari medali. “Winning is a journey, not a destination.”


Scriptozoid: Hebat sekali isi pesan bukunya. Tapi Feby sendiri meyakini ‘mestakung’ Prof Yohanes Surya?
Feby Indirani: Saya percaya Mestakung, tp saya juga sadar gak mudah utk displin menerapkan hukum-hukum Mestakung setiap waktu. Arus dunia ini deras banget, begitu banyak berita dan energi negatif yang bisa melemahkan kita. Jadi sampai sekarang saya masih terus belajar dan jadi ‘murid’ dari hukum Mestakung.


Scriptozoid: Sebagai pembaca, Mestakung tentu bukan hal yang baru sebetulnya. Apa pendapat Feby?
Feby Indirani: Kita kenal The Secret, buku-buku Law of Attraction, Alchemist Paulo Coelho, saya membaca semua buku itu. Keunikan Mestakung adalah menjelaskan prinsip semesta dengan fenomena Fisika. Contoh-contohnya bisa ditemukan dalam novel Clara’s Medal.


Scriptozoid: Apa pesan @febyindirani untuk tweeps yang dr tadi ngikutin #Twitteriak sore ini?
Feby Indirani: Terimakasih banyak Tweeps, ditunggu cerita-ceritanya jika pernah alami seMesta menDukung, bisa kirim ke buku_terbuka@yahoo.com

Wah, ternyata banyak sekali yang jadi bahan obrolan #Twitteriak bersama @febyindirani, mulai dari esensi menulis, proses kreatif hingga bocoran isi novel terbarunya Clara’s Medal. Untuk tahu lebih lanjut tentang novel terbarunya, silakan berkunjung ke blog http://clarasmedal.blogspot.com atau kirimkan pertanyaan/resensi ke clarasmedal@gmail.com ya. Sampai jumpa di episode TWITTERIAK berikutnya.

0 comments:

Poskan Komentar