#Twitteriak Eps. 7 bersama @hetih (Hetih Rusli)

Hetih Rusli (@hetih)

Bahagia itu sederhana. Terkadang kalau tolak ukur kita terlalu jauh, akhirnya kita tidak bisa mencapai kebahagiaan. Bagi orang bijak, bahagia itu artinya memahami dan tahu bagaimana caranya mencapai kebahagiaan. Kebahagiaan tercapai saat seseorang memenuhi panggilan hidupnya.

Panggilan hidup tamu TWITTERIAK yang satu ini ternyata bukan terletak pada impian menggeluti angka-angka seperti yang disangkakan orang tuanya, tetapi justru menggeluti kata demi kata di dunia membaca. Maka jadilah perempuan bershio Kelinci, kelahiran Jakarta, bulan Desember 1975 ini memilih mengabdikan 15 tahun perjalanan hidupnya dengan menjadi editor buku-buku fiksi terutama novel drama dan Young Adults (YA) di Gramedia Pustaka Utama (GPU).

Siapakah dia? Temui Hetih Rusli, tamu TWITTERIAK pekan ini. Hetih mengaku meski ia editor buku, ia tak pernah bekerja karena ia meyakini kata-kata yang diucapkan Confucius, “Pilih pekerjaan yang kaucintai, dan kau takkan pernah bekerja sehari pun seumur hidupmu.” Pekerjaan awalnya sebagai penerjemah freelance di tahun 2000 digeluti terus hingga menjadi editor ternama di Indonesia.

Bukan itu saja, belakangan Hetih Rusli juga menjalankan tugasnya sebagai Social Media Strategist di kantornya dan di waktu luang, masih menyempatkan diri untuk menerjemahkan novel.



Berikut adalah notulensi obrolan Kamis siang bersama Hetih yang riuh ramai.

#Twitteriak: Naskah seperti apa sih yang asyik untuk diedit ala Hetih? (pertanyaan @esvandiarisant)

Hetih: Saya pribadi lebih suka mengedit naskah fiksi dewasa lokal dan terjemahan. Yang menurut saya paling sulit adalah mengedit buku anak-anak.

#Twitteriak: Sejauh mana wewenang Hetih untuk mengoprek-ngoprek naskah bagus tapi masih banyak lubangnya? (pertanyaan @esvandiarisant)
Hetih: Untuk naskah yang banyak lubangnya tapi punya potensi terbit, akan saya beri masukan, revisi, dan usul untuk menambal lubangnya.

#Twitteriak: Kualitas apa yang dicari dari penulis/tulisan? (pertanyaan @esvandiarisant)

Hetih: Kemampuan bercerita dan plot yang apik.


#Twitteriak: Saat menerjemahkan/mengedit, pernahkah Hetih hanyut dalam cerita sampai bete beberapa hari? (pertanyaan @micchanzuki)
Hetih: Paling sering hanyut saat ceritanya sedih. Berkali-kali nangis waktu nerjemahin dan ngedit Nicholas Sparks, Jodi Picoult.

#Twitteriak: Prediksi Hetih, naskah apa yang bakalan laris di tahun 2012 ini? (pertanyaan @esvandiarisant)

Hetih: Prediksi saya, novel dewasa lokal.

#Twitteriak: Kalau disuruh memilih, enakan mengedit naskah klasik atau dari penulis-penulis baru? (pertanyaan @f3r1n4)
Hetih: Penulis baru. Aku suka tantangan dan mendorong penulis baru untuk menggali potensi dirinya. Kadang-kadang hasilnya mengejutkan.

#Twitteriak: Lebih sulit mana antara mengedit naskah terjemahan dengan naskah asli penulis lokal? (pertanyaan @htanzil)
Hetih: Ada beda kesulitan antara buku lokal dan terjemahan. Buku lokal kita harus berhadapan dengan manusia yang pribadinya unik dan kadang harus revisi cerita. Untuk naskah terjemahan, kita gak perlu mikir cerita tapi kadang-kadang terjemahannya yang bikin mumet.

#Twitteriak: Gimana cara menilai naskah? Membaca tuntas satu demi satu seluruhnya atau lebih ke skimming dulu? (pertanyaan @shitahapsari)
Hetih: Untuk saringan pertama, saya skimming 10 hal pertama dan 10 hal akhir. Jika bagus/berpotensi, saya akan baca seluruh naskahnya.

#Twitteriak: Pernahkah Hetih bener-benar merasa terpaksa mengerjakan satu buku yang sangat tidak disukai? Lalu kalau pernah, bagaimana cara mengatasinnya? (pertanyaan @speakercoret)
Hetih: Untuk penulis yang ngeyel, untungnya saya gak pernah ketemu, bisa ngobrol baik-baik dan kompromi, tak saling memaksakan kehendak. Jika hubungan dengan pengarangnya ngotot-ngototan, lebih baik ganti editor biar bisa kerjasama, karena penulis dan editor itu seperti suami-istri.

#Twitteriak: Siapa penulis yang sampai sekarang Hetih ingin terlibat untuk mengedit karyanya? Lokal maupun asing? (pertanyaan @f3r1n4)
Hetih: Dee Lestari :)

#Twitteriak: Selain “My Sister Keeper” dan “The Hunger Games” series, buku apa aja yang sudah diterjemahkan? (pertanyaan @aleetha)
Hetih: Saya mulai sebagai penerjemah HQ (Harlequin), pernah non-fiksi juga tapi saya gak bahagia nerjemahin non-fiksi. Terbaru saya nerjemahin Ode to Kirihito.

#Twitteriak: Bisakah penulis Indonesia dengan karya yang ada sekarang jadi penulis internasional?

Hetih: Bisa. Seharusnya bisa banget.

#Twitteriak: Tadi sempat menyebut paling sulit mengedit buku anak-anak. Bisa diceritakan bagian tersulitnya apa? (pertanyaan @triaayuk)
Hetih: Saat mengedit buku anak, saya harus berpikir seperti anak-anak dan apakah kata-kata di dalam buku itu bisa mereka pahami atau mereka anggap menarik.

#Twitteriak: Apakah Hetih menempuh pendidikan khusus untuk jadi penerjemah? (pertanyaan @shitahapshari)
Hetih: Saya tak ikut pendidikan khusus penerjemah, tapi suka baca sejak kecil. Yang lebih penting itu bahasa penerima sebenarnya. Banyak orang gagal jadi penerjemah karena bahasa Indonesianya gak bagus. Dia paham bahasa asingnya tapi gak bisa menuliskannya dengan baik.

#Twitteriak: Pas baca suatu naskah, kapan tahu kalau naskah itu bakal bagus? (pertanyaan @brigidalexandra)

Hetih: Pas baca pertama kali.

#Twitteriak: Dalam mengedit novel, genre apa yang lebih menarik perhatian Hetih? (pertanyaan @muliasri)

Hetih: Romance dan drama, hahaha!

#Twitteriak: Buku apa yang paling berkesan yang pernah diterjemahkan/diedit? (pertanyaan @tezarnet)
Hetih: Terakhir yang bikin merinding dan berkesan banget: 2 buku Agustinus Wibowo (@avgustin88) berjudul “Selimut Debu” dan “Garis Batas”.

#Twitteriak: Peran editor di luar negeri rasanya lebih dihargai dibanding di Indonesia. Bagaimana menurut Hetih? (pertanyaan @htanzil)
Hetih: Sejauh ini saya merasa dihargai sebagai editor. Ada kerjasama yang baik antara saya dan penulis-penulis saya.

#Twitteriak: Pernah berkonsultasi dengan penulis asli saat menerjemahkan fiksi asing waktu ada yang tidak dimengerti? (pertanyaan @micchanzuki)
Hetih: Sejauh ini gak pernah nanya langsung dengan penulis asli saat menerjemahkan. Tapi teman saya pernah nanya Yann Martel waktu menerjemahkan Life of Pi.

#Twitteriak: Dari kacamata editor, apa kondisi perbukuan Indonesia sudah ideal? Apa yang perlu diperbaiki?

Hetih: Harusnya kita bisa menjual lebih banyak buku dengan jumlah penduduk sebanyak ini. Lebih banyak perpus dan buku harus lebih terjangkau.

#Twitteriak: saat mengedit naskah, pernahkah Hetih mengubah gaya bahasa penerjemah/penulis? Jika iya, adakah komunikasi mengenai itu? (pertanyaan @littlemoroi)
Hetih: Saya gak berani mengubah gaya penulisan, karena setiap penulis punya gaya sendiri. Itu tidak saya utak-atik biasanya.

#Twitteriak: Sampai sekarang, impian apa yang belum tercapai? (pertanyaan @anadudunk)
Hetih: Bikin buku panduan menulis/editing :)

#Twitteriak: Mengapa merasa perlu menerbitkan satu buku panduan menulis/editing? Apa tujuannya?
Hetih: Kebanyakan editor di Indonesia hasil learning by doing. Buku panduan akan membantu calon-calon editor/penulis masa depan.

#Twitteriak: Naskah yang lolos dicetak berapa eksemplar? (pertanyaan @antokserean)

Hetih: 3000-5000 eksemplar biasanya.

#Twitteriak: Kalau dapat naskah terjemahan yang kira-kira “bahaya” buat di sini, bakal disensor/dipangkas gak? (pertanyaan @ndarow)
Hetih: Yang sering kena pangkas itu adegan panas di novel-novel romance. Kalau terlalu “seram” biasanya diperhalus.

#Twitteriak: Bagaimana menanggapi soal plagiarisme? (pertanyaan @fisherry)
Hetih: Banyak yang gak paham soal ini dan perlu edukasi sejak Sekolah Dasar (SD).

#Twitteriak: Apa biasanya kekurangan rata-rata para penulis kita?
Hetih: Penulis kita banyak yang kurang sabar dan sering puas diri. Banyak naskah yang berlubang karena ditulis buru-buru. Writing is rewriting.

#Twitteriak: Pernah gak nyoba nerjemahin naskah yang pasti tidak Hetih suka? (pertanyaan @ndarow)
Hetih: Nggak. Bisa 12 tahun gak kelar :)

#Twitteriak: Apa kendala utama (tidak termasuk bahasa) untuk penulis lokal bisa menembus pasar internasional? (@balonbiru)
Hetih: Untuk menembus pasar internasional kita butuh agen. Tapi sekarang gampang ‘kan? Pake self-publishing asing, udah jadi internasional.

#Twitteriak: Butuh waktu berapa lama untuk ngedit atau nerjemahin satu naskah? (pertanyaan @ndarow)
Hetih: Kalau nerjemahin aku lama, bisa 6-12 bulan. Kalau editing 1 buku sekitar 2-4 minggu standarnya. Tapi belum termasuk proofread dan lain-lain.

#Twitteriak: Ada gak buku yang beredar tapi Hetih ingin sekali memperbaikinya lagi karena tidak puas/masih banyak kesalahan? (pertanyaan @peri_hutan)
Hetih: Ada! Terakhir “Mockingjay” tuh. Ada yg merhatiin gak? Bab ke-22nya muncul 3x hehehe. Tapi isinya benar kok. Akan revisi kalau cetak ulang (CU).


#Twitteriak: Pernah gak benar-benar terpaksa mengerjakan 1 buku yang sangat Hetih tidak sukai? Kalau pernah, cara mengatasinya gimana? (pertanyaan @speakercoret)
Hetih: Untungnya gak pernah. Kalau sampai gak suka banget, lebih baik diedit orang lain karena hasilnya pasti gak maksimal.

#Twitteriak: Boleh tanya selera personal? Musik? Film?

Hetih: Kalau kerja, saya dengar musik, mulai dari Taylor Swift sampai dengan SNSD. Suka banget nonton TV dan nonton apa aja asal jangan (film) horor.

#Twitteriak: Ada gak terbitan gramedia yang dialihbahasakan, apakah juga diedarkan di AS dan Eropa? (pertanyaan @balonbiru)

Hetih: Novel “Ronggeng Dukuh Paruk” edar di Eropa sejak tahun 90-an. “Cantik Itu Luka” karya @ekakurniawan ada bahasa Jepangnya. Mungkin kurang woro-woro aja.

#Twitteriak: Berapa proporsi karya yang ditolak dari total karya yang masuk? (pertanyaan @avgustin88)
Hetih: Dari 1500-an naskah yang masuk per tahun, paling banyak 100 naskah baru yang terbit. Ingat ya 10 hal pertama harus menarik.

#Twitteriak: Saat ngedit, paling sebel waktu nemuin kesalahan yang macam apa? (pertanyaan @just1ian)
Hetih: Banyak naskah yang ditolak karena openingnya membosankan dengan deskripsi mendetail tentang tokoh atau dibuka dengan matahari terbit.

#Twitteriak: Editor itu bisa freelance atau tiap penerbit cuma pake editornya sendiri aja? (pertanyaan @asnwords)
Hetih: Bisa freelance.

#Twitteriak: Pernah baca kalimat, menurut Hetih menjadi editor adalah pekerjaan terbaik di dunia. Kenapa? (pertanyaan @anadudunk)
Hetih: Buat orang yang suka baca, jadi editor itu seperti bekerja di surga. Dulu mulai kariernya dengan menjadi penerjemah freelance sebelum di Gramedia Pustaka Utama (GPU).

#Twitteriak: Setelah menjadi editor, apakah masih sempat membaca buku di luar konteks pekerjaan? (pertanyaan @htanzil)
Hetih: Saya usahakan masih baca di luar pekerjaan. Karena kalau tidak, saya bakal stres dan menganggap baca semata-mata kerja.

#Twitteriak: Kira-kira koleksi buku Hetih ada berapa ya? (pertanyaan @tezarnet)
Hetih: Sedikit, saya suka bagi-bagi buku :)

#Twitteriak: Kalau salah prediksi selera pasar (diterbitkan tapi kemudian kurang laku) biasanya dampak personal ke editornya apa? (pertanyaan @balonbiru)
Hetih: Kalau buku yang diterbitkan ternyata gak laku, jelas jd sedih, frustrasi. Tapi saya belajar untuk “let go” dan gak maksa orang untuk suka.

#Twitteriak: Terkadang dalam menulis adakalanya stuck. Bagaimana cara mengatasinya? (pertanyaan @rahmanrudy)

Hetih: Menulis butuh konsistensi, kesepian-hanya kau sendiri, dan rutinitas menulis. Saat stuck, kita yang harus mendorong diri kita.

#Twitteriak: Ada keinginan nulis buku sendiri? (pertanyaan @arynity)
Hetih: Dulu pernah coba nulis novel, tapi saya ternyata payah deh. :) ) In my opinion, jelek. Dan kupikir aku lebih bagus jadi editor. Kata Lau Tsu “One must know when to stop.

#Twitteriak: Bisa diceritakan gimana awal mula bisaa ‘terjerumus’ dalam dunia editor? (pertanyaan @just1ian)
Hetih: Aku “dididik” dengan buku2 Mira W, Abdullah Harahap, Sidney Sheldon, Pearl S. Buck. Senang bisa ketemu bu Mira dan pak AH.

#Twitteriak: Selama jadi editor, ada gak buku editan sendiri yang paling berkesan sampai sekarang? (pertanyaan @leanita88)
Hetih: Buku terjemahan favoritku: “My Sister’s Keeper” “Brokeback Mountain”<– susahnya setengah mampus, dan "The Hunger Games"

#Twitteriak: Seberapa sering mengedit itu = menulis ulang? (pertanyaan @dion_yulianto)
Hetih: Saya jarang nulis ulang dalam editing. Kalau buku lokal, kukembalikan ke pengarang beserta catatan revisi, dia yang nulis sendiri. Saya gak mau memanjakan penulis dengan “menuliskannya” buat dia. Biar dia yang rewrite sendiri. Kurasa penulis pun lebih puas begitu. Untuk buku terjemahan, menulis ulang itu kalau terjemahan jelek, sambil ngomel-ngomel dalam hati sama penerjemahnya.

#Twitteriak: Kalau sudah selesai menerjemahkan buku, apakah biasanya ngasih ‘hadiah’/penghargaan buat diri sendiri? (pertanyaan @myfloya)
Hetih: Iya dong! Habis menerjemahkan, saya malas-malasan 3 hari nonton DVD sampai pusing. Biar fresh lagi ke buku berikutnya.

#Twitteriak: Pernah gak saking sebelnya sama 1 penulis sampai mengundurkan diri jadi editor penulis yang bersangkutan? (pertanyaan @asdewi)
Hetih: Gak pernah :)

#Twitteriak: Gimana cara membagi pekerjaan untuk para editor di GPU? Ditentukan atau ditawarkan oleh atasan? (pertanyaan @htanzil)
Hetih: Di GPU, editor seringnya mengajukan diri mengedit buku tertentu. Dan kalau ditugasi atasan, biasanya sudah tau selera editornya.

#Twitteriak: Butuh berapa lama penerbit memberi kabar bahwa tulisan itu diterima atau ditolak? (pertanyaan @susyillona)
Hetih: Sekitar 3-6 bulan

#Twitteriak: Buku apa yang pertama kali Hetih terjemahkan? (pertanyaan @myfloya)
Hetih: “A Bride of His Choice” – Emma Darcy (th2000)

#Twitteriak: Apa sisi “gak enaknya” jadi editor? (pertanyaan @asdewi)
Hetih: Pernah 1x bosan banget baca. Rasanya sedih banget padahal baca itu hobiku. Akhirnya cuti 1 minggu tanpa lihat buku sama sekali.

#Twitteriak: Gimana cara Hetih pindah-pindah editan dari satu naskah ke naskah lain dengan lancar? (pertanyaan @esvandiarisant)
Hetih: Untungnya aku manusia multitasking. Jadi bisa pindah-pindah editing dengan cepat. Bisa ngedit 3 buku sekaligus. :)

#Twitteriak: Paling sebal sama naskah seperti apa? (pertanyaan @onlyrandy18)

Hetih: Paling sebal sama naskah yang nulisnya begini: “Aq ga tau kenapa dy begitu sama aq. pAdAhAl aq baiq loh.” Langsung tolak!

#Twitteriak: Saya tertarik dengan buku bertema ekonomi dan ber-background ekonomi, buku apa ya yang menarik? (pertanyaan @sugik_muhammed)
Hetih: Kebetulan saya editor fiksi. Tapi saya suka baca buku-buku marketing. Karena editor yang bagus itu sebaiknya punya insting jualan.

#Twitteriak: Kalau saya mau jadi editor, sarannya mulai dari apa/mana dulu nih? Apa harus dari translator? (pertanyaan @asdewi)

Hetih: Yang mau jadi editor, harus buka diri terhadap banyak bacaan. Jangan mudah sinis. Perhatikan loker (lowongan pekerjaan), kalau ada lowongan buru-buru ngirim.

#Twitteriak: Apa bedanya antara editor sama beta reader? Sama-sama mengedit, kan? (pertanyaan @muliasri)

Hetih: Kalau gak salah, istilah beta reader seringnya dipakai sama penulis online atau fanfic (fantasy fiction). Editor biasanya untuk buku konvensional.

#Twitteriak: Apa pesan untuk para calon editor?

Hetih: Book editor yang baik harus punya rasa bangga terhadap pekerjaannya, punya idealisme. Gak semata-mata mikir rupiah yang dihasilkannya.

#Twitteriak: Kalau pesan untuk yang ingin mengirim naskah ke penerbit apa?
Hetih: Tips mengirim naskah, lihat tipe penerbitnya dan jenis terbitan mereka. Lihat naskah kita cocok dengan penerbit yang mana. Tidak perlu malu jika kamu self-publishing, penulis bisa saja dilirik penerbit setelah sukses self-publishing.

Itulah tadi, segala hal yang dijawab Hetih Rusli (editor Gramedia Pustaka Utama) selama obrolan TWITTERIAK. Terima kasih sekali lagi untuk para pemirsa dan Hetih Rusli yang sudah meluangkan waktu ikut ngobrol di TWITTERIAK ini.

0 comments:

Poskan Komentar