#Twitteriak Eps. 10 bersama @Zeventina (Zeventina Octaviani)

Zeventina Octaviani (@Zeventina)

PENULIS ini menamakan proses kreatifnya dengan “menulis dengan hati”. Barangkali ini teknik menulis yang jarang terdengar dalam buku teks pelajaran sastra. Inilah penamaan proses kreatif yang dilakukan oleh penulis yang lahir di luar rahim kesusastraan. Sebuah cetusan. Sebuah pernyataan bahwa karya sastra baik tidaklah selalu harus lahir dari rahim kesusastraan, ia bisa lahir dari mana saja. Sebagaimana ide menulis, bisa lahir dari mana. Penulis mengaku ia tinggal mengunduhnya dari alam.

Zeventina Octaviani telah menulis novel sejak 2009, karya debutnya “Elle Eleanor” berkolaborasi dengan Fery ZanZad langsung menjadi nominator di Khatulistiwa Literary Award di tahun yang sama. Sehari-hari bekerja sebagai web designer (IT), tidak mengendurkan niat Zeventina untuk terus menulis. Pada akhir tahun 2011, Zeventina kembali menulis novel. Kali ini ditulis sendiri dan diberi judul Nyai Duesseldorf, diterbitkan oleh Penerbit Imania.


#Twitteriak: Bisa cerita sedikit tentang keseharian Zeventina? Kenapa akhirnya punya passion menulis?
Zeventina: Keseharian saya adalah pekerja IT. Tapi passion menulis terbentuk sejak kecil. Mungkin karena hobi baca saya. Passion menulis itu saya asah terus dengan cara menulis di blog. Dari respon orang-orang yang positif, saya jadi semangat.

#Twitteriak: Bagaimana mengasah kemampuan menulis di awal berkarya dulu? Apakah ada metode tertentu?
Zeventina: Metode menulis saya adalah: menulis dari hati. Idenya saya download dari alam.

#Twitteriak: Maksudnya menulis dengan hati itu apa? (pertanyaan @mariana_pink)
Zeventina: Menulis dari hati adalah menulis dengan penjiwaan. Bukan menulis demi uang semata tapi demi kepuasan batin. Menulis dari hati adalah loyal, rela mengorbankan survey sampai “jatuh bangun” demi idealisme.

#Twitteriak: Novel “Elle Eleanor” sendiri prosesnya unik seingat kami. Ditulis jarak jauh tanpa pernah bertemu. Apa suka dukanya?
Zeventina: Dukanya, penyesuaian waktu Eropa dan Indonesia. Malamnya saya. Paginya Ferry Zanzad.

#Twitteriak: Apa yang membuat sekarang memutuskan untuk menerbitkan novel sendiri? Tidak berkolaborasi lagi?
Zeventina: Kolaborasi itu harus menyatukan 2 pikiran yang berbeda. Sendiri itu bebas. Saya bisa mempertahankan idealisme.

#Twitteriak: Ada nggak rival atau saingan dalam menulis? (pertanyaan @esvandiarisant)
Zeventina: Saya tak pernah berpikir tentang rival. Bisa menggerogoti pikiran. Sayang waktu. Lebih baik berkarya saja.

#Twitteriak: Kenapa menulis “Nyai Duesseldorf”?
Zeventina: Saya menulis “Nyai Duesseldorf” karena keterpihakanku pada kaum wanita. Dan kekagumanku pada kekuatan cinta.

#Twitteriak: Apa ada alasan khusus kenapa memilih menulis novel dengan setting sejarah? (pertanyaan @leanita88)
Zeventina: Yang sejarah itu “Elle Eleanor”. Kalau “Nyai Duesseldorf” bukan sejarah. Tapi psikologis “kaum (maaf) homo”.

#Twitteriak: Mana yang lebih penting untuk memulai ke dunia tulis menulis? Bakat atau kemauan? (pertanyaan @mariana_pink)
Zeventina: Lebih penting kemauan. Bakat tanpa kemauan adalah kesia-siaan. Sedang kemauan tanpa bakat adalah “harapan”.

#Twitteriak: Pernah nggak disirikin orang lain, bagaimana mengatasinya? (pertanyaan @esvandiarisant)
Zeventina: Disirikin mungkin pernah. Tapi kenapa repot jika sebenarnya orang yang sirik adalah fans terbesar kita.

#Twitteriak: Untuk membangun setting sejarah, berapa lama waktu yang dibutuhkan @Zeventina untuk riset? (pertanyaan @nabilabudayana)
Zeventina: Selama menulis risetku tak pernah berhenti. Berani menulis berarti harus berani bertanggungjawab pada tulisan.

#Twitteriak: Sebagai penulis hal apa yang harus dilakukan agar karakter tokoh benar-benar kuat dan hidup bagi pembaca? (pertanyaan @neratama)
Zeventina: Karakter kita hidupkan dengan cara membuat CV tokoh berisi data diri, usia, warna kulit, cara bicara dll.

#Twitteriak: Apa “Nyai Duesseldorf” adalah pencerminan diri Anda sendiri? (pertanyaan @esvandiarisant)
Zeventina: Bukan. Nyai Duesseldorf terinspirasi dari airmata seorang wanita yang terpuruk di Duesseldorf sana.

#Twitteriak: Bagaimana mengatasi writing blocking? (pertanyaan @tezarnet)
Zeventina: Saat terjadi writing blocking, jangan paksakan. Berhentilah sejenak. Lakukan penyegaran hingga siap lagi. Menulis bukanlah jualan sate yang dipesan langsung jadi. Tulisan yang dipaksakan hasilnya gak akan bagus.

#Twitteriak: Apa nilai plus dari menjadi seorang penulis? (pertanyaan @mariana_pink)
Zeventina: Nilai plus penulis: 1. Karya. 2. Kebanggaan. 3. Popularitas. 4.5.6. Banyak lagi.

#Twitteriak: Sejauh mana karakter Anda memengaruhi karakter-karakter dalam novel Anda? (pertanyaan @esvandiarisant)
Zeventina: Tulisanku basic -nya soft, tapi saya berusaha keras “keluar” dari situ. Jadilah Nyai Duesseldorf yang “keras”.

#Twitteriak: Lebih suka menulis novel atau puisi? (pertanyaan @neratama)
Zeventina: Saya lebih suka menulis puisi. Lebih simple daripada menulis novel.

Zeventina dan novel terbarunya "Nyai Duesseldorf"
#Twitteriak: Setting novel “Nyai Duesseldorf” di Ciwidey dan Duesseldorf, bisa diceritakan kenapa memilih 2 lokasi tersebut? (pertanyaan @htanzil)
Zeventina: Setting Duesseldorf saya pilih, karena saya bertemu si “Nyai” di Duesseldorf. Setting Ciwidey, karena saya pernah punya kenangan di sana.

#Twitteriak: Jika menulis berbanding lurus dengan wawasan, apakah Anda lebih banyak membaca buku fiksi? (pertanyaan @helvrySINAGA)
Zeventina: Bacaan saya beragam. Mulai dari literasi hingga fiksi. Membaca fiksi bukan berarti mengurangi wawasan.

#Twitteriak: Seberapa besar pengaruh background pendidikan major yang Zeventina tekuni pada tulisan-tulisannya? (pertanyaan @nabilabudayana)
Zeventina: Tentang pengaruh pendidikan major terhadap tulisan, saya serahkan kepada pembaca untuk menilai.

#Twitteriak: Bicara tentang menulis, bicara tentang motivasi. Apa yang memotivasi saat menulis? (pertanyaan @mariana_pink)
Zeventina: Yang memotivasi saya dalam menulis adalah keinginan untuk mempersembahkan kenangan pada anak cucu saya.

#Twitteriak: Apa pernah mengalami seperti Nyai, terjebak di antara lelaki yang dicintai dan lelaki yang mncintainya? (pertanyaan @mariana_pink)
Zeventina: Terjebak di antara 2 lelaki seperti Nyai, belum pernah. Pernahnya terkena jebakan batman, heuheuuu..

#Twitteriak: Hehehe…

#Twitteriak: Siapa penulis favorit Zeventina? Apa terpengaruh dengan gaya penulisannya? (pertanyaan @nabilabudayana)
Zeventina: Saya pengagum Leo Tolstoy dan Victor Hugo. Tulisan mereka “padat”. Satu alinea bisa bermakna 2 halaman.

#Twitteriak: Dalam menulis novel, sebaiknya sudah tahu ceritanya akan ditulis seperti apa atau biarkan mengalir? (pertanyaan @neratama)
Zeventina: Sebaiknya siapkan dulu plot agar cerita “dikerangkeng” dulu alurnya. Ke sananya jika mau nambah konflik gak apa-apa.

#Twitteriak: Bagaimana Anda memadukan antara menulis kreatif dengan mendesain sebuah web? (pertanyaan @helvrySINAGA)
Zeventina: Web design berhubungan dengan art, pun penulisan. Design atau cerita sama-sama harus “unik”. At least tak pasaran.

#Twitteriak: Selama berkiprah di dunia tulis menulis, apa pernah mendapat komentar miring/kritik pedas? (pertanyaan @mariana_pink)
Zeventina: Kritik pernah, tapi tidak pedas. Saya jujur saja justru suka kritikan daripada pujian.

#Twitteriak: Seberapa jauh peran @Zeventina dalam menentukan cover “Nyai Duesseldorf”? (pertanyaan @esvandiarisant)
Zeventina: Saya diajukan beberapa cover, di antara 5 kemudian saya pilih yang itu. Sebenarnya saya sudah buat sendiri, tapi tak di-acc (disetujui).

#Twitteriak: Adakah obsesi yang belum tercapai dari seorang Zeventina? (pertanyaan @mariana_pink)
Zeventina: Obsesi saya yang belum tercapai: membuat cerita tentang Hitler dan Alien. Saya lagi meracik nih.

#Twitteriak: Apa sih biasanya yang menjadi indikator kesulitan dalam menulis? (pertanyaan @mariana_pink)
Zeventina: Kesulitan menulis biasanya “orang malas memulai”. Jika sudah dimulai ke sananya lancar.

Ternyata obrolan #TWITTERIAK bersama penulis Zeventina Octaviani berjalan seru dan banyak yang ikut teriak pertanyaan-pertanyaan. Terima kasih Zeventina sudah bersedia menjadi tamu #TWITTERIAK dan sampai jumpa di program obrolan #TWITTERIAK selanjutnya.

0 comments:

Poskan Komentar