#Twitteriak Eps. 8 bersama @akmal_n_basral (Akmal Nasery Basral)

Akmal Nasery Basral (@akmal_n_basral)
Nama Akmal Nasery Basral kian naik ke permukaan dunia menulis di Indonesia. Setelah kumpulan cerpen pertamanya “Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku” (2006) masuk ke dalam daftar Khatulistiwa Literary Award 2007, setiap tahun selalu ada gebrakan karya dari penulis kelahiran Jakarta, 28 April 1968. Tiga karya terakhirnya bergenre novel biografis, tak membuat karyanya tenggelam di antara bermunculannya karya bergenre sejenis dari berbagai penerbit.

Salah satu yang menonjol adalah siapa yang dipilih penulis sebagai tokoh yang dijadikan novel biografis. Setelah sebelumnya menulis Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), Sjafruddin Prawiranegara (Presiden PDRI) dan kisahnya diangkat menjadi novel biografis dengan judul “Sang Pencerah” dan “Presiden Prawiranegara”, akhir tahun 2011 lalu, Akmal Nasery Basral menulis masa kecil Aburizal Bakrie, yang di masa kecilnya dipanggil Ical, dalam novel berjudul “Anak Sejuta Bintang” terbitan Expose (Grup Mizan).

Di ranah media sosial, karya terakhirnya ini dibicarakan. Berbagai isu miring menyeruak, mulai dari tuduhan #SastraPilpres, uang bayaran senilai 50 milyar, hingga tanggungjawab moral sastrawan. Tapi ruang dialog tak kunjung dibuka.


Atas dasar itulah TWITTERIAK mengundang Akmal Nasery Basral untuk bertamu di obrolan Kamis siang. Tentu saja tak melulu menjawab soal novel terbarunya, tapi termasuk juga membuka temu dialogis antara (calon) pembaca dan penulis tentang proses kreatif dan latar belakang penulis. Berikut ini notulensi obrolan bersama Akmal Nasery Basral (@akmal_n_basral) di acara TWITTERIAK!

#Twitteriak: Orang sering meremehkan kumpulan cerpen (kumcer), menurut Anda sendiri gimana? (pertanyaan @esvandiarisant)
Akmal: Biarkan saja.

#Twitteriak: Menurut Anda kelebihan kumcer dari novel itu apa? (pertanyaan @esvandiarisant)

Akmal: Seperti kelebihan sprint dari marathon.

#Twitteriak: Kumcer yang baik menurut Anda seperti apa? Ada pesan moral? Joke? Yang lain? (pertanyaan @esvandiarisant)

Akmal: Bisa semuanya.

#Twitteriak: Anda lebih suka pakai sudut panjang orang pertama/ketiga? Apa kelebihan masing-masing POV (Point of View)? (pertanyaan @esvandiarisant)

Akmal: POV 1 lebih subyektif, POV 3 lebih obyektif.

#Twitteriak: Jika naskah Anda ada yang perlu direvisi, lebih memilih diserahkan pada editor atau dikerjakan sendiri? (pertanyaan @esvandiarisant)
Akmal: Tergantung materi.

#Twitteriak: Gimana cara Anda menentukan judul? (pertanyaan @esvandiarisant)
Akmal: Fokus ke isi.

#Twitteriak: Apa Anda pernah menulis sesuatu yang perlu riset? Kalau iya, soal apa? (pertanyaan @esvandiarisant)
Akmal: Hampir semua karya saya pakai riset.

#Twitteriak: Apa kesulitan menulis novel biografis? (pertanyaan @f3r1n4)
Akmal: Banyak, bisa jadi buku sendiri :)

#Twitteriak: Pernah tidak Anda mengalami kehabisan ide, writer’s block dan sejenisnya? Dan bagaimana mengatasinya? (pertanyaan @rbennymurdhani)
Akmal: Sering.

#Twitteriak: Riset apa yang paling susah dilakukan? (pertanyaan @esvandiarisant)
Akmal: Novel “Presiden Prawiranegara”.

#Twitteriak: Pernah mengalami penolakan? Penolakan apa yang paling berkesan buat Anda? (pertanyaan @esvandiarisant)
Akmal: Pernah, cerpen di koran.

#Twitteriak: Apa passion Anda sejak awal adalah menulis? (pertanyaan @esvandiarisant)
Akmal: Sejak awal itu kapan? SD passion saya dengar musik. SMP jadi musisi. SMA dokter.

#Twitteriak: Andai Anda tak jadi penulis, kira-kira mau jadi apa? Kenapa? (pertanyaan @esvandiarisant)
Akmal: Musisi, dari kecil suka dengar musik.

#Twitteriak: Menurut Anda, penulis itu harus mengikut selera pasar atau sesuai idealisme pribadi? (pertanyaan @rbennymurdhani)
Akmal: Both. Yang penting keduanya serius.

#Twitteriak: Punya tips agar mudah menulis menggunakan sudut pandang orang kedua? (pertanyaan @leanita88)

Akmal: Cari, baca, pelajari buku sejenis.

Ical dalam novel ini adalah nama kecil Aburizal Bakrie
#Twitteriak: Terkait novel #AnakSejutaBintang, apakah ini novel pesanan? Siapa yang memesan?
Akmal: Ya, novel pesanan Expose/Mizan.

#Twitteriak: Novel terbaru Anda sempat heboh menyangkut tokoh utama, apa hal ini sudah diprediksi? (pertanyaan @htanzil)
Akmal: Sudah.

#Twitteriak: Apa saja ketidaknyamanan dalam mengerjakan novel #AnakSejutaBintang? (pertanyaan @mataharitimoer)

Akmal: Waktu pengerjaan kurang panjang.

#Twitteriak: Apakah ada pro-kontra dari orang selingkungan ketika Anda mau nulis #AnakSejutaBintang? (pertanyaan @mataharitimoer)
Akmal: Tidak.

#Twitteriak: Apa yang Anda harapkan dari novel #AnakSejutaBintang? (pertanyaan @esvandiarisant)
Akmal: Sama seperti karya saya yang lain: dibaca.

#Twitteriak: Saya tahu kenapa NH Dini suka keluarga Bakrie karena figur Achmad Bakrie. Tapi bagi Anda, apa istimewanya kisah keluarga Bakrie ini?
Akmal: There’s a garden in ev’ry childhood.

#Twitteriak: Apa pertimbangan Anda menulis tokoh Ical dalam #AnakSejutaBintang? (pertanyaan @mataharitimoer)
Akmal: Dipercaya Mizan.

#Twitteriak: Adakah pro-kontra batin Anda sebelum menulis novel biografis Ical? (pertanyaan @mataharitimoer)
Akmal: Awalnya iya, setelah banyak bahan tidak.

#Twitteriak: Bermunculan kritik pembaca pada isi #AnakSejutaBintang di Social Media. Ada tanggapan Anda?

Akmal: Mendukung.

#Twitteriak: Sudah 3 novel biografis ditulis, apakah memang menspesialisasikan diri menulis novel biografis? (pertanyaan @htanzil)
Akmal: Tidak.

#Twitteriak: Ada tanggapan khusus untuk isu #SastraPilpres misalnya? Pasti itu maksudnya novel #AnakSejutaBintang sebagai pencitraan ‘kan?
Akmal: Lihat TL saya 29 Januari 2012, nomer 1-26.

#Twitteriak: Apa pesan utama yang mau disampaikan novel #AnakSejutaBintang? (pertanyaan @wina_ronan)
Akmal: Keluarga fondasi, sahabat merekatkan.

#Twitteriak: 50 milyarnya mau diapain tuh? (pertanyaan @Radja_Nusantara)
Akmal: Tanya RedPel Tempo @BudiSetyarso yang nyebar isu pertama kali.

#Twitteriak: Mengapa judulnya #AnakSejutaBintang? (pertanyaan @alvina13)
Akmal: “Bintang” mengacu pada guru/orang-orang yang berjasa bagi Ical.

#Twitteriak: Apa yang diharapkan dari #AnakSejutaBintang di dunia kepenulisan? (pertanyaan @alvina13)
Akmal: Makin banyak novelis biografis.

#Twitteriak: Menurut Anda, apa yang kurang tergarap di novel #AnakSejutaBintang karena keterbatasan waktu.
Akmal: Emosi Ical kecil kurang optimal

#Twitteriak: Butuh berapa lama untuk menyelesaikan #AnakSejutaBintang? Wawancara langsung dengan Ical atau lewat email? (pertanyaan @htanzil)
Akmal: 1 tahun, wawancara 20-an orang termasuk Aburizal Bakrie (ARB)


#Twitteriak: Untuk novel pesanan, apakah penulis juga berhak dapat royalti, atau jual putus? (pertanyaan @andri_ab)
Akmal: Both.

#Twitteriak: Menurut Anda siapa kira-kira resensor-resensor yang resensi-resensi bukunya sangat otoratif dan mendalam? (pertanyaan @htanzil)
Akmal: Salah satunya berinisial HT, tinggal di Bandung. Kenal?

#Twitteriak: Peristiwa apa/tokoh siapa yang pengen dibikin bukunya tapi belum kesampaian? (pertanyaan @balonbiru)
Akmal: Almarhumah Ibu saya. Yang juga belum kesampaian, menulis “Imperia: 2″.

#Twitteriak: Ada pesan untuk tweeps yang sudah ikut obrolan #Twitteriak ini dari tadi?
Akmal: Trims sudah diundang. Dukung terus penulis Indonesia.

Demikian obrolan TWITTERIAK bersama penulis novel #AnakSejutaBintang Akmal Nasery Basral. Nantikan obrolan pekan berikutnya.

0 comments:

Poskan Komentar