#Twitteriak Eps. 5 bersama @melody_violine (Melody Violine)

Twitteriak eps. 6 bersama Melody Violine (@melody_violine)
 
Penerjemahan karya asing adalah perkara penting. Penerjemahan kerap kali disebut-sebut sebagai jembatan penghubung antarkebudayaan. Melalui penerjemahan, suatu karya bisa dikenal bangsa lain dan membentuk kebudayaan di tempat yang baru. Sebetulnya bangsa Indonesia telah mengenal karya penerjemahan sejak lama. Pada awal kebudayaan Jawa, misalnya, terjadi proses menerjemahkan karya sastra Mahabharata dan Ramayana dari India. Dua karya itu jelas amat mempengaruhi besar kebudayaan di Jawa. Kemudian, Indonesia mengenal penerjemahan karya-karya bangsa lain: Inggris, India, Rusia, hingga Amerika Latin.
Pelakon penerjemahan ada banyak. Ada zamannya, pelakonnya adalah sastrawan yang terkenal seperti Sapardi Djoko Damono saat menerjemahkan The Old Man and The Sea karya Ernest Hemingway. Diakui sendiri oleh Sapardi Djoko Damono bahwa dalam proses penerjemahan, sering kali kata-kata tertentu hilang atau berubah. Perubahan dan penghilangan kata-kata dalam penerjemahan meskipun dapat mengalami “proses pendustaan” seperti yang disebut Damhuri Muhammad, bisa jadi malahan membuat versi terjemahan menjadi lebih indah. Siapa sangka puisi Chairil Anwar berjudul “Karawang-Bekasi” ternyata berasal dari terjemahan puisi The Young Death Soldiers? Tak urung penerjemah kerap juga disebut sebagai sastrawan “baru”.


Hari-hari ini, penerbitan karya penerjemahan merupakan hal umum. Pelakonnya bisa siapapun, tak mesti seorang sastrawan. Seperti apakah kerja penerjemahan dan bagaimana seluk-beluk kerjanya dalam industri perbukuan? Untuk itulah, TWITTERIAK merasa perlu untuk menghadirkan seorang penerjemah muda. Pilihan jatuh pada Melody Violine, penerjemah yang lahir pada 17 November 1988.

Meskipun menyandang nama Melody Violine, Melody lebih suka menulis daripada bermain musik. Di usia yang muda, ia telah melahirkan dua novel remaja, Behind the Scenes Story dan Daun Muda, sejumlah cerita pendek, dan esai. Tapi jumlah karya terjemahannya lebih panjang lagi deretannya, mulai dari Cash in a Flash, The Mortal Instruments: City of Bones, Branded Outlaw, Marketing with Meaning, Colossal Failure, Assassin’s Creed: Renaissance, The Mortal Instruments: City of Glass, Lips Touch Three Times, Fairy Rebel: Spell Hunter, The Laws of Magic: Word of Honor, Raised by Wolves, Darkest Powers: The Summoning, Toby Alone, The Chocolate Box Girls: Cherry Crush, The Infernal Devices: Clockwork Angel, You Can Have an Amazing Memory, Darkest Powers: The Awakening, Assassin’s Creed: Brotherhood dan masih banyak lagi di tahun 2012 ini.

Simak obrolan seru bersama Melody Violine (@melody_violine) yang di tengah kesibukannya mengejar cita-citanya menjadi ahli bahasa (saat ini Melody sedang kuliah S2 Linguistik) dan penulis ternama, masih sempat menerjemahkan, menyunting, dan menjadi pengajar.

Scriptozoid!: Banyak yang bertanya, sebetulnya jadi penerjemah itu apakah harus lulusan sastra? Atau ada syarat lain?
Melody Violine: Gak harus, yang penting menguasai bahasa sumber dan sasaran.

Scriptozoid!: Bila dijelaskan lebih detil maksudnya. Sasaran apa? Dan penguasaan bahasa yang bagaimana?
Melody Violine: Bahasa sumber maksudnya bahasa asli bahan terjemahan, bahasa sasaran artinya bahasa hasil terjemahan. Misalnya aku nerjemahin dari bahasa Inggris ke Indonesia, berarti bahasa sumbernya Inggris, sasarannya Indonesia.

Scriptozoid!: Dengan kemampuan itu orang bisa jadi penerjemah apa saja. Tapi kenapa Melody memilih jadi penerjemah buku? Apa menariknya?
Melody Violine: Karena saya suka baca buku, jadi saat menerjemahkan sekalian membaca untuk hiburan, apalagi kalau fiksi, bahagianya. :) )

Scriptozoid!: Menurut saya selain menguasai terjemahan tekstual, penerjemah juga perlu cerdas menyingkap tafsir kontekstual. Lalu bagaimana caranya agar bisa mengasah dua kemampuan tersebut agar terjemahan jadi bagus?
Melody Violine: Tentu saja, setiap kata mengandung makna harfiah (kamus) dan makna kontekstual (sesuai konteks cerita). Rajin baca-tulis dalam dua bahasa itu, banyak belajar dari sesama penerjemah dan minta masukan dari editor, pembaca, dan lain-lain.

Scriptozoid!: Kerja penyuntingan teks terjemahan sangat berpeluang membuahkan dusta. Itu kutipan dr Damhuri Muhammad yg menyoroti proses penerjemahan yang bisa menyimpang dari arti sebenarnya, maka disebut dusta. Kemudian editor yg tak awas menggunting terjemahan dan menghadirkan teks yg berbeda dari karya aslinya. Apa pendapat Mel?
Melody Violine: Tak ada kata atau ungkapan dalam dua bahasa yang 100% berpadanan, jadi peluang dusta selalu ada, tinggal cari cara meminimalisasinya.

Scriptozoid!: Kata Jose Saramago “Sastrawan mencipta sastra bangsanya masing-masing. Tapi sastra dunia diciptakan oleh penerjemah.” Setuju?
Melody Violine: Menurutku lebih tepat “Sastrawan menyampaikan sastra kepada bangsanya masing-masing, sastra dunia disampaikan lewat kata-kata penerjemah”.

Scriptozoid!: Denger-denger bayar kuliah dari honor menerjemahkan ya? (Pertanyaan dari @dinabegum)
Melody Violine: Iya, honor nerjemahinnya buat bayar kuliah.

Scriptozoid!: Pernah nggak sih dicaci pembaca karena terjemahan yang ‘kurang’ bagus atau kurang sesuai? (Pertanyaan dari @just1ian)
Melody Violine: Itu udah biasa, hahaha, nih ada pembaca yang baru saja “mencaciku”.

Scriptozoid!: Menurut kamu, apa miskonsepsi terbesar dari pembaca terhadap proses kerja penerjemah? (Pertanyaan dari @MaggieTiojakin)

Melody Violine: Bahwa nerjemahin itu gampang… Paling sebel kalo ada yang mengentengkan.

Scriptozoid!: Menerjemahkan itu sebaiknya berpihak pada pembaca, editor/penerbit, atau penulis? (Pertanyaan dari @rinurbad)

Melody Violine: Aku berusaha kompromi ketiganya, tapi prioritas pembaca. :)

Scriptozoid!: Pernah ngelamar ke penerbit terus ditolak nggak? Atau apa ada penerbit yang ngejar-ngejar kamu? (Pertanyaan dari @dinabegum)
Melody Violine: Aku pernah ditolak penerbit romance. Nggak ada penerbit yang ngejar-ngejar, paling nanya lagi kosong atau nggak.

Scriptozoid!: Lebih suka nerjemahin buku apa? Suka pilih-pilih nggak kalau nerjemahin? (Pertanyaan dari @peri_hutan)
Melody Violine: Lebih suka fiksi fantasi, tapi sementara ini aku terima-terima saja asalkan bukan buku teknis.

Scriptozoid!: Rata-rata dalam sehari bisa nerjemahin berapa halaman jadi kalau dihitung dalam skala kertas ukuran A4? (Pertanyaan dari @balonbiru)
Melody Violine: 20-30 halaman (kalau libur), 5-15 halaman (kalau kuliah)

Scriptozoid!: Besarkah pengaruh kuliah linguistik thd keahlian menerjemah? dibanding yg otodidak bgm? (Pertanyaan dari @bruziati)

Melody Violine: Dalam praktik, pengalaman tetap paling berperan. Linguistik lebih bermanfaat untuk kritik terjemahan.

Scriptozoid!: Waktu dapet orderan nerjemahin The Mortal Instrument, senang apa kaget? Kan bukunya tebal. (Pertanyaan dari @alvina13)
Melody Violine: Senang dan kaget bukan main waktu dapet The Mortal Instrument :D Nggak jadi soal tebal atau tipisnya, asal ceritanya seru.

Scriptozoid!: Kapan menyadari bahwa menerjemahkan bukan sambilan yang sekadar mengisi waktu luang? (Pertanyaan dari @rinurbad)
Melody Violine: Ketika tahu besarnya biaya kuliah dan senangnya bekerja sebagai penerjemah.

Scriptozoid!: Apa yg membuatmu mencintai menerjemahkan? (Pertanyaan dari @balonbiru)
Melody Violine: Menerjemahkan serasa belajar menulis dari penulis yang bukunya lagi kuterjemahkan, dibayar pula!

Scriptozoid!: Gimana kalau ada yang bilang tak minat beli terjemahanmu hanya gara-gara cover? (Pertanyaan dari @rinurbad)
Melody Violine: Tak apa-apa, bukan salahku, hehe…

Scriptozoid!: Selama menerjemahkan, pernah dihubungi langsung penulisnya nggak? Terus ngobrol gitu sama mereka? (Pertanyaan dari @alvina13)
Melody Violine: Aku pernah menghubungi beberapa penulis luar untuk cek istilah. :)

Scriptozoid!: Pernah nolak order terjemahan nggak? Karena apa? (Pertanyaan dari @dinabegum)

Melody Violine: Aku pernah nolak order karena harganya jauh di bawah standar, padahal mintanya cepat-cepat, tapi dokumen sih, bukan buku.

Scriptozoid!: Apa yg paling susah diterjemahkan? Misal ungkapan arkaik, puisi, lirik lagu & kenapa? (Pertanyaan dari @dion_yulianto)
Melody Violine: Paling susah itu puisi, antara mengkhianati isi atau rimanya…

Scriptozoid!: Saya tertarik waktu kamu menerjemahkan karyanya Stephen Oppenheimer berjudul Eden of East. Bisa ceritakan suka duka waktu menerjemahkannya?
Melody Violine: Itu buku paling susah. Isinya geologi, arkeologi, linguistik, historis kedokteran, tapi alhamdulillah bisa…

Scriptozoid!: Pilih istilah asing yang sudah umum atau sesuai KBBI meski belum umum dan terdengar aneh? (Pertanyaan dari @JimmyNavy)
Melody Violine: Pakai dua-duanya :) ) Misalnya: “sandwich alias roti isi”.

Scriptozoid!: Adakah penerjemah yang benar-benar bisa menggarap semua genre sama baiknya? (Pertanyaan dari @rinurbad)
Melody Violine: Menurutku bisa ada, tapi aku belum menemukan penerjemah seluar biasa itu. :)

Scriptozoid!: Kalo harus pilih antara mempertahankan isi atau rima, mana yg kamu pilih saat menerjemahkan puisi? (Pertanyaan dari @dion_yulianto)
Melody Violine: Mempertahankan isi. Rima setidaknya bisa huruf vokalnya aja kalau sudah kepepet.

Demikian obrolan panjang lebar soal penerjemahan bersama Melody Violine di episode 5 TWITTERIAK. Terima kasih atas kesempatan dan sharing yang sudah dibeberkan untuk kita semua. Semoga memberi banyak manfaat.

Nantikan program TWITTERIAK selanjutnya.

0 comments:

Poskan Komentar