#Twitteriak Eps. 6 bersama @erwinarnada (Erwin Arnada)

Twitteriak Eps. 6 bersama Erwin Arnada (@erwinarnada)

Penjara bukan akhir dari segalanya. Sejarah membuktikan bahwa meskipun badan terpenjara, tetapi pikiran tidak pernah bisa dipenjara. Yusuf bin Ya’kub “didaulat” menjadi nabi ketika dipenjara Raja Mesir untuk menutupi aib istrinya. Di pengapnya bui, Yusuf mendapat hikmah dan menjadi ahli takwil mimpi, yang dengannya ia berdakwah dan mengajak manusia menyembah Allah. Antonio Gramsci, pemikir Italia itu, menjelma jadi teoritikus politik terkemuka ketika dipenjara rezim Fasis Benito Mussolini. Karyanya yang terkenal, Negara dan Hegemoni, merupakan buku terpenting Gramsci yang menunjukkan betapa intelektualisme dan gagasan besar tidak harus hidup dalam keindahan ruang semesta yang seakan-akan bebas namun justru terpenjara. Gramsci merasa bebas walau badannya terkurung. Bukunya lahir dari sebuah pergulatan situasi di mana ruang dan waktu tak mengizinkan bertaburnya gagasan-gagasan politik. Dalam sempit dan gelapnya sel serta dengan kondisi yang sakit-sakitan dan terus-menerus diteror, Gramsci melahirkan karya besar. “I turn and turn in my cell like a fly that doesn’t know where to die.”

Dari negeri sendiri, ada Soekarno, Mohammad Hatta, Buya Hamka sang ulama sastrawan, demikian pula M Natsir sang ulama pejuang, juga pernah dipenjara dan diasingkan. Tapi mereka mampu mencipta sejarah dan karya yang terus dikenang. Merekalah yang dalam terminologi Richard Lovelace, si penyair Cavalier, manusia yang dapat menjadikan penjara sebagai tempat pertapaan.



Dan kini ada Erwin Arnada. Pria kelahiran Jakarta 17 Oktober 1963 memulai karir sebagai jurnalis, lalu menerbitkan media. Ia juga dikenal telah memproduseri 11 judul film layar lebar dan merupakan orang yang bertanggung jawab atas tren film horor di era kebangkitan industri film nasional lewat Jelangkung (2000) dan Tusuk Jelangkung (2002). Tahun 2006, Erwin menerbitkan majalah Playboy Indonesia dan karena desakan mengatasnamakan agama, Erwin mendekam di LP Cipinang. Selama 8,5 bulan di penjara, akhirnya MA mengabulkan permohononan kembali (PK) Erwin atas kasusnya, dan dibebaskan pada Juni 2011.
Kini selepas dari penjara, Erwin Arnada memulai debutnya sebagai penulis/sutradara. Yang ditulisnya bukan pledoi, tetapi sebuah novel berjudul “Rumah di Seribu Ombak” yang bercerita tentang kisah Wayan Yanik dan Samihi, dua anak Singaraja Bali, yang mengalami kehidupan kelam tetapi tetap punya semangat dan daya juang tinggi untuk hidup. Dua anak laki-laki ini berbeda agama, satu Islam dan satunya Hindu. Dan untuk menambah kekompleksan cerita, masing-masing anak tersebut tidak memiliki ayah dan satunya tidak memiliki ibu. Meski berbeda keyakinan, kedua anak tersebut menjalin persahabatan yang erat dan saling melengkapi.

Inilah yang menjadikan kehadiran Erwin Arnada sebagai tamu di TWITTERIAK menjadi spesial. Berikut ini wawancara Scriptozoid! bersamanya:

Scriptozoid!: Selamat atas terbitnya novel Rumah di Seribu Ombak ya. Inspirasinya datang darimana sih?
Erwin Arnada: Datang dari kehidupan anak singaraja, Wayan Manik, yang mengalami kehidupan kelam tapi tetap semangat untuk sekolah dan menolong anak lain.

Scriptozoid!: Proses kreatifnya dilakukan di dalam penjara Cipinang atau selepas bebas (di Bali)?
Erwin Arnada: Saya kerjakan 60% sebelum masuk penjara, dan 40% selama di dalam penjara.

Scriptozoid!: Apa pesan utama yg mau disampaikan dalam Rumah di Seribu Ombak?
Erwin Arnada: Tentang hak anak-anak untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan tentang keberanian mewujudkan impian. Lewat novel ini saya ingin teriak bahwa banyak anak Bali yang jadi korban pelecehan seksual, pedofilia. Ironisnya gak banyak yang peduli.

Scriptozoid!: Isu pendidikan yang layak bagi anak ini hal nyata atau sebatas fiksi sebetulnya?
Erwin Arnada: Nyata. Selama ini Bali cuma dieksploitasi kepariwisataannya oleh Pusat. Dijual habis sementara banyak desa yang tertinggal.

Scriptozoid!: Berkaitan soal motivasi di balik proses kreatif. Kenapa pengen nulis novel ini? (pertanyaan dari @fergie18082007) Lalu kenapa pilih setting pedofil/pelecehan seksual anak di Singaraja, Bali? Padahal byk lokasi lain di Indonesia yg punya masalah sama.
Erwin Arnada: Cerita ini harus dipublikasikan di novel dan film karena ada problem sosial besar di Singaraja. Sementara gak banyak yang tau dan peduli.

Scriptozoid!: Knp tiba2 nulis novel? Seberapa jauh keseharian di Cipinang berpengaruh pd proses kreatif novel ini? (pertanyaan dari @htanzil)
Erwin Arnada: Besar sekali pengaruh penjara pada novel. Rasa pedih yang dialami tokohnya adalah hasil kontemplasi di sel. Ending cerita itu cerminan depresi saya.

Scriptozoid!: Adakah harapan tertentu terhadap kesuksesan buku ini? (pertanyaan dari @alvina13)
Erwin Arnada: Harapannya banyak yang jadi peduli pada nasib anak-anak dan tidak ada lagi anak desa yang jadi korban pedofil akibat kemiskinan.

Scriptozoid!: Kira-kira cerita pengalaman hidup di dalam sel akan dibikin novelnya gak? (pertanyaan dari @fergie18082007)
Erwin Arnada: Kisah kehidupan saya di penjara akan diterbitkan, judulnya Midnite di Negeri Nonsense. Terbit Juli 2012.

Scriptozoid!: Banyak karya besar penulis justru lahir dari penjara. Hatta, Pram, Tan Malaka contohnya. Apakah Rumah di Seribu Ombak siap jadi salah satunya?
Erwin Arnada: Penulis besar yang berkarya dari dalam penjara itu rata-rata semuanya orang Sumatera. Saya pun anak Sumatera loh ha ha ha. I WISH.

Scriptozoid!: Apa saja kesulitan yang didapatkan waktu nulis maupun pembuatan filmnya? (pertanyaan dari @alvina13)

Erwin Arnada: Kesulitan saat menulis novel adalah temanya yang bersinggungan dengan dua isu sensitif masyarakat Bali: soal pedofili di desa-desa dan ihwal bom Bali. Tertutupnya masyarakat Bali akan kejadian pedofilia jadi persoalan tersendiri saat saya meriset untuk novel/film ini.

Scriptozoid!: Jadi yang istimewa dari Rumah di Seribu Ombak apa aja? (pertanyaan dari @candra_budii)

Erwin Arnada: Novel ini bisa menginspirasi banyak orang, itu testimoni dari orang-orang yang sudah baca. Istimewanya karena ini cerita anak/novel lokal yang DARK.

Scriptozoid!: Apa harapan penulis andai ada pejabat pemerintah baca novel ini? (pertanyaan dari @fergie18082007)

Erwin Arnada: Saya gak ngarep pejabat pemerintah baca novel saya agar ada perubahan, karena mereka gak akan melakukan apa-apa terhadap masalah orang kecil.
Scriptozoid!: Siapa yang meriset untuk novel dan film ini? (pertanyaan dari @htanzil)
Erwin Arnada: Riset dan investigasi soal pedofilia dan subtema lain untuk novel/film ya saya sendiri dibantu LSM lokal. Riset dilakukan sejak 2008.

Scriptozoid!: Sekarang banyak hal “menunggangi/mengatasnamakan agama”. Apa yang sebenarnya sedang terjadi menurut Anda?
Erwin Arnada: Sedang terjadi proses politisasi terhadap persoalan agama. Isu agama jadi komoditi yang paling gampang dijual. Semuanya urgensi politik.

Scriptozoid!: Berdasarkan riset, pelaku pedofil itu penduduk asli Bali atau pendatang? (pertanyaan dari @htanzil)
Erwin Arnada: Pelaku semua pendatang asing. Banyak dari Eropa, usia 40 ke atas. Selain soal pedofilia, alam Bali memang sudah dirusak oleh ekspat/asing, yang dipermudah oleh pejabat kita. Semua diekploitasi sampai hancur.

Scriptozoid!: Banyak yang penasaran, sudah tahap apa film Rumah di Seribu Ombak? Kpn bisa ditonton masyarakat?
Erwin Arnada: Rumah di Seribu Ombak lagi editing, tayang pas Lebaran. Soundtrack Superman is Dead. Ini film anak yang dark dan rock n roll!

Scriptozoid!: Terima kasih buat Erwin Arnada yang mau jadi tamu obrolan #Twitteriak hari ini. Semoga debutnya sukses dan banyak orang jadi peduli pada Bali.

Erwin Arnada: Terima kasih Scriptozoid! dan teman-teman yang ikutan ngobrol di #Twitteriak. Salam Seribu Ombak!

Demikian obrolan seru TWITTERIAK pekan ini. Sampai jumpa di TWITTERIAK berikutnya dengan tamu yang tak kalah seru buat diajak ngobrol.

0 comments:

Poskan Komentar